Search
Generic filters
Exact matches only
Filter by Custom Post Type

Warganegara Internet

0
0
4 weeks ago
Warganegara Internet

Sebagai seorang fresh-graduate yang tentu saja kaum kelas menengah ngehe, saya tidak memiliki aset. Saya belum mempunyai rumah, apartemen apalagi sawah dan pabrik. Aset termahal yang saya miliki hanyalah domain situs akyan.id ini. Saat saya ingin membeli domain serta mencari jasa desainer untuk membangun situs ini, saya tidak perlu repot-repot ke kantornya. Saya menghubungi beliau lewat direct message (DM) Instagram dan kemudian melakukan pembayaran melalui e-banking. Ketika saya ingin mengiklankan situs ini, saya tidak memikirkan papan reklame. Promosi di Instagram, Facebook atau meminta endorsement dari influencer jauh lebih menarik.

Pengalaman saya tentu tidak jauh berbeda dengan pemuda seusia saya. Belanja kebutuhan pokok melalui e-commerce seperti Tokopedia, Bukalapak dan Blanja.com. Pertemuan komunitas dilakukan melalui Facebook. Wawancara kerja melalui Skype. Koran harian dan majalah digantikan media daring. Internet kini menggantikan geografi. Jarak geografis menjadi irrelevan. Pacaran jarak jauh (LDR) menjadi semakin mudah.

Revolusi industri 4.0 mengubah ekonomi secara drastis. Mode produksi kini bukan sebatas pabrik dan sawah tetapi internet. Produk digital kini semakin berharga. Software, aplikasi dan video game lebih mahal daripada hardware dan console-nya. Data kini menjadi komoditas yang lebih berharga daripada minyak.

Dampak internet terhadap ekonomi mungkin sangat mudah dijelaskan. Namun, apakah internet dapat mengubah lanskap dan tatanan politik di setiap negara maupun tatanan global?

Negara-bangsa yang rentan

Untuk memahami perubahan yang mungkin diakibatkan oleh internet, perlu kita pahami terlebih dahulu konsep-konsep politik arus utama.

Satuan politik dalam skema internasional masih menggunakan nation-state, satuan yang digunakan sejak Westphalia. Konsep kebangsaan (nation) hingga kini masih digunakan sebagai pemersatu sebuah negara (state). Menurut Benedict Anderson, nation adalah suatu imagined communities. Untuk membangun suatu imagined communities, dibutuh suatu konstruksi komunalitas. Media, secara spesifik, printing press, menurut Benedict Anderson, adalah kunci terbentuknya nation-states. Internet adalah media. Ia menyampaikan informasi kepada komunitas orang yang bahkan belum pernah kita temui sebelumnya. Tetapi, apakah internet akan seperti printing press, yang mendukung terbentuknya nation-states atau malah menghancurkannya?

Sebuah kajian berjudul “The Nation-State in Digital Age: A Contextual Analysis in 33 Countries” dari Lu dan Liu dari Tsinghua University dan Peking University mencoba menjawab pertanyaan di atas. Mereka menyimpulkan bahwa internet berhubungan erat dengan demokrasi. Internet menyediakan konten terkait isu kepentingan publik sehingga partisipasi publik meningkat. Internet telah terbukti berdampak pada state-building. Kultur kebebasan berpendapat di internet mendukung transfer ideologi sehingga kritik-kritik terhadap suatu pemerintahan otoriter pun semakin marak. Demonstrasi besar-besaran yang menjatuhkan Husni Mubarak di Mesir diorganisasikan di Twitter.

Perubahan pada persepsi tentang state kemudian berhubungan dengan persepsi terhadap nation dan nation-building.

“As digital infrastructure increases, people’s attachment to the nation state would rely more on the universal appeal of democracy than on particular appeal of ethnicity”

Menurut Lu dan Liu, infrastruktur digital berbanding terbalik dengan pendekatan etnis dan kepercayaan publik pada negara. Dengan pendekatan etnis, kepercayaan masyarakat pada negara bergantung pada kepercayaan interpersonal antar masyarakat yang disatukan oleh kebudayaan kebangsaan. Internet membawa fragmentasi sosial dan individualisasi budaya sehingga merusak basis budaya kepercayaan antar individu dalam suatu bangsa.

Konstruksi Identitas baru: “Citizens of the Internet”

Internet memang merusak basis kebangsaan sebagai identitas yang selama ini mempersatukan masyarakat suatu negara. Namun, di saat yang sama internet mengkonstruksi suatu identitas lintas bangsa.

Selama ini, dalam mengkonstruksi identitas kebangsaan, seringkali negara membentuk suatu konstruksi enemy images terhadap warga negara asing. Konstruksi bina bangsa seringkali menggunakan narasi outsider pada warga negara asing sehingga memunculkan prejudis terhadap mereka. Seseorang lebih mempercayai sesama warga negaranya ketimbang warga negara asing.

Kekuatan internet untuk menghubungkan seseorang dari benua Eropa menuju benua Afrika kemudian menghancurkan prejudis ini. Internet membentuk suatu kultur global. Fenomena meme yang mendunia dapat dijadikan contoh globalisasi budaya. Semua candaan (jokes) adalah inner jokes. Ia hanya menjadi lucu jika kita merupakan bagian dari komunitas itu. Meme dan shitpost dapat dikatakan sebagai suatu budaya bentukan internet yang menghubungkan shitposter dari berbagai negara. Para shitposter mempunyai kesamaan budaya. Meme dan shitpost adalah bahasa bagi mereka. Fenomena meme menunjukkan bahwa terjadi kontruksi identitas lintas batas budaya.

Sebagai pengguna internet, kita juga membangun rasa saling percaya yang sangat tinggi. Dalam merancang liburan ke luar negeri, kita dapat memesan AirBnb, suatu kamar yang dimiliki warga negara asing tanpa ragu. Kita mengunjungi situs e-commerce global, memesan barang dari pelapak luar negeri tanpa rasa takut.

Tidak ada kekuasaan di atas negara? Siapa bilang?

Salah satu karakterisasi suatu negara adalah ia menentukan kebijakan yang akan memengaruhi kebijakan warga negaranya. Di era digital, kita akan jauh lebih terpengaruh perubaha kebijakan Facebook daripada kebijakan yang dibuat oleh negara. Ketika Facebook mengganti algoritma News feed-nya, akses berita yang kita terima akan ikut berubah. Kebijakaan Facebook ini jauh lebih berpengaruh ketimbang, misalnya, pemerintah mengubah regulasi mengenai penerbitan dan distribusi surat kabar harian. Ketika asset terbesar yang saya miliki adalah domain situs akyan.id dan laman instagram, bukan rumah maupun apartemen, kebijkan pemerintah tentang pajak bumi bangunan tidak memengaruhi hidup saya. Kebijakan Instagram tentang promosi jauh lebih berpengaruh bagi saya.

Tentu, ranah hukum masih milik negara. Pasal penistaan agama atau penghinaan presiden yang digubah oleh parlemen memang dapat memengaruhi kehidupan kita. Namun, pasal tersebut masih belum diterapkan. Tidak mungkin pihak penegak hukum dapat menjerat semuanya sehingga masih banyak pesan-pesan yang melanggar pasal tersebut berkeliaran di ruang fisik. Namun, berbeda halnya di ruang digital. Ketika Facebook menentukan kebijakannya mengenai hate-speech, otomatis algoritma Facebook akan menyensor semua hate-speech di platform media sosialnya. Ketika kita lebih terdampak akibat kebijakan Facebook daripada kebijakan negara kita masing-masing, Facebook memiliki kuasa yang lebih besar daripada negara.

Di era digital, kita memiliki dunia baru. Perusahaan-perusahaan seperti Google, Facebook dan Amazon adalah negaranya. Internet adalah wilayahnya. Pengguna adalah warganya. Apa kemudian yang harus kita lakukan sebagai Citizens of the Internet? Akan kami bahas di kesempatan lain. Stay tune.

Referensi

Danny Crichton, The Nation State of the Internet, Tech Crunh, https://techcrunch.com/2018/12/08/the-nation-state-of-the-internet/ 

Maximilian Stern, The Internet and the end of the nation state, The European, https://www.theeuropean-magazine.com/maximilian-stern–2/9580-the-internet-and-the-end-of-the-nation-state 

Jia Lu; Xinchuan Liu, The Nation-state in Digital Age: A Contextual Analysis in 33 Countries, International Journal of Communication, 12 (2018)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *