Search
Generic filters
Exact matches only
Filter by Custom Post Type

Rambut Sebagai Simbol Relasi Kuasa untuk Laki

0
0
4 weeks ago
Sumber: Pexels

Siapa saja laki – laki yang saat masih kecil, ketika diajak untuk potong rambut oleh orang tuanya, sering dibilang “Dibotakin aja biar ganteng, kayak ABRI”? Dan siapa pula, laki – laki yang berambut sedikit panjang saja, sudah dikatain “Kayak berandalan!”?

Terdapat alasan tersendiri mengapa kaum laki – laki diidentikkan dengan rambut pendek atau botak. Dan, ada alasan simbolik pula, selain alasan praktikal, mengapa melakukan hal yang sebaliknya dicap sebagai simbol pemberontakan dan kebebasan. Secara sejarah, rambut dipandang sebagai simbol kehormatan, kekuasaan, serta kekuatan, dan hal ini berlaku untuk laki – laki dalam konteks patriarkis.

Sumber: Pexels

Hingga pada abad ke-19, memiliki rambut panjang untuk laki – laki menjadi suatu identitas tersendiri, yaitu Ia tidak perlu memotong rambutnya untuk alasan praktikal yaitu pekerjaannya. Begitu pula untuk perempuan, mereka yang bekerja sebagai buruh seringkali harus memotong pendek rambutnya untuk alasan yang praktikal. Alasan praktikal ini lama kelamaan menjadi sebuah identitas pembeda tersendiri, antara mereka yang memiliki status di masyarakat, dengan mereka yang hanya masyarakat jelata. Bahkan untuk para laki – laki yang sudah membotak karena umur, memakai rambut palsu atau wig malah menjadi keharusan tersendiri, karena rambut merupakan salah satu simbol status sosial pada waktu itu. 

Budaya membotaki rambut untuk prajurit militer, baru dimulai sekitar awal abad ke-20, di mana pembotakan rambut menjadi suatu bentuk penyeragaman dan penghilangan atas identitas individual. Hal ini dilakukan dengan harapan para prajurit dapat berhubungan erat tanpa harus melihat perbedaan. Namun sebagai hasilnya, pembotakan rambut malah dianggap sebagai bentuk subordinasi, ketundukan kepada otoritas yang lebih tinggi. Di sisi lain, di penjara dan kamp konsentrasi, pembotakan rambut menjadi simbol dehumanisasi. Mereka yang dianggap bukan manusia ini dirampas identitas individualnya dengan cara membotaki rambut mereka. Tanpa sadar, nilai – nilai ini masih terus terjaga dan dilakukan sampai saat ini.

Di Indonesia, praktik ini masih sangat melekat. Sekolah – sekolah menyuruh murid laki – lakinya untuk memotong pendek rambutnya, terkadang malah wajib untuk botak. Memang ada alasan praktikal, khususnya untuk mereka yang berada di STM misalnya, tetapi simbolisme memotong rambut sebagai tanda tunduk kepada otoritas dan peraturan sekolah masih melekat. Begitu pula praktik perploncoan saat masuk universitas, pembotakan rambut menjadi simbol subordinasi dan kepatuhan kepada senior yang gila hormat.

Di luar itu semua, laki – laki yang berambut panjang mendapatkan stigma yang negatif. Mulai dari berandalan, pemberontak, kebarat – baratan, hingga mungkin yang paling parah, ingin menyerupai perempuan. Hal ini tidak terlepas dari sejarah Indonesia sendiri yang pernah melakukan represi khusus terhadap laki – laki berambut panjang baik di era Orde Lama maupun Orde Baru.

Rambut adalah sebuah bagian dari identitas individual dan juga sarana berekspresi, baik untuk laki – laki maupun perempuan. Stigmatisasi negatif serta pemaksaan pemotongan rambut adalah sebuah bentuk dehumanisasi.

Bagaimana menurutmu? Apakah laki – laki seharusnya berambut pendek, atau hal itu tidak penting sama sekali?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *