Search
Generic filters
Exact matches only
Filter by Custom Post Type

Pentingkah Memilih Kerja Sesuai Passion? Atau Sesuai Gaji dan/atau Keinginan Orangtua?

0
0
1 week ago

“Mending kerja ikut passion atau kerja ikut duitnya?” mungkin adalah salah satu pertanyaan filosofis paling sering dipertanyakan oleh generasi muda jaman sekarang. Bagi yang pragmatis, pastinya memilih bidang kerja berdasarkan uangnya (agar supaya cuan!), tapi buat yang idealis biasanya memiliih untuk bekerja sesuai passion

Ada banyak sekali artikel dan cerita inspiratif orang-orang sukses karena mengikuti passionnya. Tapi tunggu dulu, sebenarnya passion itu apa? Kenapa passion seringkali dipasangkan dengan “kerja”?

Merujuk kamus Merriam-Webster, passion memiliki banyak arti. Dari merujuk ke penderitaan Yesus di masa kematiannya, keinginan intens untuk menjadi yang terbaik di bidangnya, kejahatan yang dilandasi hasrat (crime of passion), hingga hasrat seks. Nah loh, banyak kan artinya, bukan cuma merujuk ke pekerjaan doang?

Kembali lagi ke pertanyaan awal: kenapa kerja harus mengikuti passion dan sebaliknya? Bukankah kalau kita mengikuti definisi Merriam Webster, justru hanya orang-orang yang amat-teramat terobsesi dengan pekerjaannya yang bisa dibilang “kerja mengikuti passion”?

Tak hanya itu, kamu juga perlu dipusingkan dengan apa passion-mu. Kamu suka masak, apa itu berarti itu passion-mu? Belum tentu. Kamu mungkin suka masak tapi ga sampai mati-matian belajar hingga ke tingkatnya Gordon Ramsay. Itu bukan passion namanya, itu hanya hobi.

Agar sesuatu bisa disebut sebagai passion, kamu tak hanya harus amat menyukai bidangmu, tapi kamu juga harus mendedikasikan banyak waktu dan semangat untuk menaikkan levelmu, sampai ke level master. Kamu tak peduli seberapa banyak waktu, uang dan hal-hal lainnya yang kamu korbankan demi menguasai bidang yang kamu suka. Nah, itu baru passion.

Belum bisa menemukan passion-mu? Tenang aja, passion ga jatuh dari langit sepeti tahi burung (kenapa harus tahi burung, kenapa ga uang aja sih?). Kadang passion datang tanpa diduga. Mungkin kamu sedang mencoba melakukan sesuatu baru, lalu tahu-tahu kamu senang terus mendedikasikan banyak sumber daya ke hal ini. Nah, selamat, kamu dapat passion-mu!

Setelah kamu menemukan passion-mu, apa yang kamu lakukan? Langsung mencemplungkan diri ke passion barumu? Eits, tunggu dulu. Sebaiknya kamu lakukan riset jenis-jenis pekerjaan apa saja yang tersedia untuk passionmu. Begitu juga dengan gajinya karena passion doang enggak mengisi perut dan bayar token listrik cuy~.

Penting juga untuk mencari tahu orang-orang yang sukses dari bekerja dengan bidang yang sesuai passionmu. Ya anggap saja buat gambaran sekaligus motivasi. Ambillah contoh Bill Gates, alm Steve Jobs, alm Walt Disney, Elon Musk, J.K. Rowling, Gordon Ramsay atau bahkan Jokowi (eh Jokowi memang passionnya jadi presiden?), dkk. Cari sendiri lah sisanya, google is free kata kakak-kakak SJW Twitter.

Sedikit sekali bukan? Iya, dikit banget sampai agak bikin depresi.

Mungkin buat orang-orang yang passionnya ada di dunia yang lagi hip seperti teknologi seperti tiga nama besar yang disebutkan di atas, yang kerjanya membuat inovasi, maka sudah jelas punya potensi sukses lebih besar dari… ya ambil contohlah yang passionnya bahasa atau humaniora (hiks!).

Tapi ya, tak jarang pula orang-orang yang bekerja sesuai passion mereka tidak mempermasalahkan bayarannya sama sekali. Karena bagi mereka, passion mereka adalah identitas mereka. Mereka merasa hilang arahan kalau passion mereka direbut. Kalau kamu tipe yang seperti ini, monggo lakukan. Tapi ya pastikan tabunganmu cukup semisal kamu gagal, atau lebih baik lagi, punya orangtua kaya yang bisa membuatmu tetap hidup.

Nah setelah riset tentang pekerjaan yang sesuai dengan passionmu – itupun kalau kamu udah nemu passionmu apa – kamu juga harus siap dengan segala konsekuensinya. Kaya… tiba-tiba kamu kehilangan passion atau berubah haluan dadakan. Ini bisa banget terjadi loh.

Loh kok bisa? Gimana ceritanya?

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Paul O’Keefe, Carol Dweck, dan Gregory Walton dari Stanford, mantra seperti “kerja berdasarkan passion” memiliki implikasi bahwa mencari dan mendapatkan ketertarikan dan mengembangkannya menjadi passion itu mudah. Karena pola pikir seperti ini, justru ketika orang-orang yang mengalami tantangan di ketertarikan baru mereka, justru akan cenderung menyerah dari ketertarikan baru mereka.

Tak hanya itu, ketiga ilmuwan ini juga menyatakan bahwa pola pikir seperti ini menyatakan bahwa jumlah ketertarikan seseorang itu terbatas. Hal ini menyebabkan orang-orang untuk mempersempit fokus mereka dan membuat mereka enggan mencoba hal-hal baru.

Padahal, di dunia sekarang, banyak sekali inovasi-inovasi baru yang terjadi karena orang-orang dari bidang yang berbeda bekerja sama. Dan hal ini hanya bisa terjadi ketika orang-orang membuka pikiran mereka. Para ilmuwan ini juga menambahkan bahwa justru passion itu adalah sesuatu yang cair layaknya air, bukan sesuatu yang “tetap”.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Ketiga ilmuwan ini mengatakan untuk “kembangkan passionmu”. Jangan hanya fokus ke satu bidang saja. Kalau kamu tertarik masak-masak, bisa loh kamu membuka cakrawala dengan belajar biologi dan kimia juga buat bikin makanan gastronomi yang kreatif dan science-y. Tak hanya unik, kamu juga bisa bikin harga makananmu mahal karena avant garde. Mantep kan?

Memang jalannya akan susah, tapi asal kamu mau terus belajar dan tak kenal lelah, kamu pasti bisa! Yuk semangat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *