Search
Generic filters
Exact matches only
Filter by Custom Post Type

Mengapa Kita Harus Menghadapi Kematian dengan Berani

0
0
3 weeks ago
Bicara Kematian

Coba tanya ke orang yang dekat denganmu – baik teman, pacar, atau bahkan orang asing yang kamu temui di ruang publik: “hal apa yang paling kamu takuti dari hidup?”

Berani taruhan orang-orang akan mengatakan kalau mereka takut mati. Alasannya bisa macam-macam, dari tidak ingin meninggalkan orang-orang terkasih, takut masuk neraka karena dosa yang menggunung, takut terasa sakit ketika malaikat maut mencabut nyawa, dan alasan-alasan lainnya. Mau yang terdengar serius atau lucu, semua orang punya alasan kenapa mereka takut mati.

Meskipun banyak yang takut mati, anehnya mayoritas orang menganggap kematian masih jauh dari pandangan. Mereka menganggap kematian baru akan menghampiri ketika mereka sudah tua renta. Padahal ya yang namanya kematian bisa saja menghampiri kapan saja. Hari ini bisa saja sehat bugar, besok bisa jadi sudah terkapar di lantai, aspal, tanah, atau kasur. Wayoloh.

Dualitas ironis ini bukan hanya fenomena Indonesia saja loh, tapi juga global. Fenomena ini tak hanya muncul di negara-negara berkembang di mana spritualitas masih tinggi, tapi juga di negara maju. Ketakutan kematian pun juga menghampiri berbagai umur. Ironisnya lagi, nampaknya fenomena ini lebih terlihat di kalangan anak muda dibanding mereka yang tua. Penderitanya paling banyak berusia 20 tahun-an dan menurun seiring dengan bertambahnya usia. Yah, melihat prospek masa depan kita yang buruk, bakal lucu kalau banyak dari kita yang tidak ‘terjangkit’ ketakutan ini.

Dari segi psikologi, fobia kematian sendiri terbagi menjadi dua: nekrofobia yaitu ketakutan terhadap hal-hal berbau kematian dan thanatofobia yaitu ketakutan terhadap kematian diri sendiri. Thanatofobia lebih sering ditemukan dibanding nekrofobia. Bukan hal yang mengejutkan mengingat masyarakat masih menganggapnya sebagai topik tabu.

Fobia kematian bisa membuat penderitanya mengalami serangan panik dan terus-terusan memikirkan hal-hal seputar kematian. Dibiarkan saja tentunya akan membuat penderita terkonsumsi ketakutan irasional. Hal ini tentunya sangat destruktif, baik untuk kesehatan fisik dan mentalnya. Ironisnya, ini juga bisa mengantarkan seseorang ke kematiannya sendiri.

Sedangkan dari segi filosofis, filsuf Yunani Epicurus menyatakan bahwa “kematian [seharusnya] bukan menjadi perhatian kita, karena selama kita eksis, kematian tidaklah di sini. Dan ketika kematian terjadi, kita tidak lagi eksis.” Poin dari perkataan Epicurus adalah bahwa entitas material yang memiliki ruh pastinya akan mengalami kematian. Kehidupan berakhir di kematian adalah fakta material dan empiris yang tak bisa ditampik. Toh kalaupun kematian akhirnya terjadi, kamu tidak akan merasakannya karena kamu tidak lagi ‘hidup’.

Memang selain perasaan takut akan apa yang dirasakan sebelum mati, orang-orang juga takut akan apa yang terjadi atau menunggu mereka setelah kematian. Untuk mereka yang beragama Abrahamik (Judaisme, Islam, Kristen), ada neraka dan surga menunggu setelah hari penghakiman massal. Namun bagaimana dengan orang-orang yang mengenal konsep ‘karma’ dan ‘reinkarnasi’ seperti Buddhisme?

Di ajaran Buddhisme, kematian dibahas secara buka-bukaan dan ekstensif. Di awal menyebarnya ajaran ini, para biksu baru biasanya diajak untuk melihat proses kematian. Mereka disuruh untuk mengobservasi mayat hewan dan manusia yang ditinggalkan di alam liar selama berhari-hari.

Sekilas hal ini terdengar kejam, tapi sebetulnya hal ini sengaja dilakukan untuk membuka mata sekaligus menekankan konsep ‘reinkarnasi’ ke pikiran mereka. Kegiatan ini juga membiasakan mereka untuk berhadapan langsung dengan kematian, membuat mereka nyaman akan konsep kematian.

Kenyamanan terhadap konsep kematian merupakan hal yang krusial. Karena dalam reinkarnasi, tubuh hanyalah tempat tinggal sementara ruh dan kesadaran sebelum ia pergi lagi ke tubuh lainnya. Tubuhnya pun terus berubah, seiring dengan apa yang sang ruh dan kesadaran lakukan selama hidupnya. Perjalanan ruh ini akan terus berlanjut hingga akhirnya ia menemukan ‘kebenaran’ yang akhirnya bisa meriliskannya dari siklus reinkarnasi dan mengantarkannya ke Nirvana.

Meskipun kamu bukan Buddhis, bermeditasi soal kematian bisa menguntungkanmu dalam kehidupan. Dari memikirkan soal proses kematian hingga membayangkan apa yang terjadi setelah kamu meninggalkan hidup fana, kamu bisa memandang hidup dengan cahaya baru.

Dari hal tersebut, kamu akan menyadari bahwa hidup ini sebetulnya hanyalah perjalanan yang singkat dan sementara. Kamu akan mulai membangun rasa apresiasi terhadap kehidupan, karena setiap detik kehidupan berharga. Sehingga setiap nafas dan waktu yang kamu hirup dan jalani akan digunakan untuk melakukan hal-hal baik, alih-alih hal-hal hedonistik, materialistis, dan yang juga mungkin menyakiti makhluk hidup lain.

Jadi setelah semua ini, apakah kamu masih takut kematian? Atau justru malah menemukan makna baru dari kematian?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *