Search
Generic filters
Exact matches only
Filter by Custom Post Type

Melampaui Kebaikan dan Kejahatan, Menguak Sifat Alami dan Utama Manusia

0
0
2 months ago

Ketika orang membicarakan Nietzsche, yang biasanya muncul di kepala adalah “nihilisme”, “Zarathustra”, dan “beyond good and evil”. Ngomong-ngomong soal “beyond good and evil” (melampaui kebaikan dan kejahatan), tentunya ini mengacu kepada tabiat manusia. Apakah manusia dilahirkan memiliki sifat baik, seperti yang diajarkan oleh agama dan filsuf dahulu kala atau justru jahat, seperti realitas kehancuran peradaban yang akan kita hadapi dalam waktu dekat?

Agama, terutama agama Abrahamik, cenderung melihat sifat invidual manusia sebagai sesuatu yang sudah ditentukan bahkan sebelum individu tersebut lahir ke dunia. Di Kristen, ada kepercayaan “dosa asal” yang diterima oleh seluruh umat manusia sebagai konsekuensi dari Adam dan Hawa memakan buah khuldi. Sedangkan di Islam, nasib dan sifat seseorang sudah ditentukan bahkan sebelum ia lahir. Hal ini dikonsepsikan lewat Qada dan Qadar – meski begitu, manusia selalu diberikan kesempatan untuk mengubah

Pertanyaan tentang sifat fundamental manusia sudah dikontestasi oleh para filsuf dari dahulu kala. Aristoteles memandang sifat fundamental setiap manusia sebagai sesuatu yang sudah ditakdirkan dan tidak bisa diubah lagi. Filsuf Thomas Hobbes menganggap sifat dan kehidupan manusia yang natural sebagai “menyendiri, miskin, brutal, dan pendek”.

Berkebalikan dengan Hobbes, filsuf Jean-Jacques Rousseau melihat sifat manusia “pada dasarnya baik dan bisa hidup damai dan bahagia tanpa adanya negara modern” seperti sekarang. Ia pun mengkritik pandangan Hobbes sebagai “terlalu sempit, tidak universal, dan hanya menggambarkan konteks spesifik masyarakatnya” yang kala itu sedang dirundung Perang Sipil Inggris.

Sedangkan filsuf Friedrich Nietzsche menolak adanya dikotomi “baik” dan “buruk” yang dibuat oleh agama dan diperdebatkan oleh filsuf zaman sebelumnya. Ia berargumen bahwa moralitas universal adalah mitos dan sebetulnya sifat manusia yang sebenarnya melewati dikotomi baik dan buruk. Ia juga menolak konsep keinginan bebas (free will), menyatakan bahwa yang sebenarnya memotivasi tindakan manusia adalah kemauan untuk berkuasa (will to power). Sayangnya Nietzsche tidak menjelaskan secara jelas apa yang ia maksud dengan ini.   

Seiring dengan berkembangnya teknologi dan neurosains, pertanyaan tentang sifat fundamental manusia pun mulai dibedah di struktur otak, hormon, dan DNAnya. Robert Sapolsky, profesor Biologi Stanford dalam bukunya “Behave: The Biology of Humans at Our Best and Worst”, menyatakan bahwa manusia, bahkan di tataran biologis pun, tidak memiliki sifat fundamental dan tujuan yang konkret seperti spesies lain.

Ambillah contoh lebah madu dan semut yang secara biologis telah deprogram bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Dalam tataran ini, manusia tidak secara otomatis bekerja sama kecuali ada faktor-faktor yang mendorongnya untuk melakukan itu. Sehingga apakah manusia jahat atau tidak bukan hanya permasalahan biologis semata, tapi juga permasalahan perspektif dan konteks budaya-sosial masyarakat.

Permasalahan soal sifat “buruk” dan “baik” juga berkaitan erat dengan kekerasan. Kita seringkali menganggap hanya orang-orang jahat saja yang melakukan kekerasan, padahal sebetulnya yang terjadi di realita kita tidak seperti itu. Manusia sebagai spesies menyukai kekerasan, tapi hanya jenis kekerasan yang menguntungkan bagi kelompok kita, seperti yang ditunjukkan oleh Sapolsky.

Tak hanya itu, kita juga menyukai melihat orang lain – terutama yang tidak kita sukai – mengalami kegagalan atau kerugian. Perasaan ini, yang juga disebut sebagai schadenfreude, ternyata sudah muncul sejak umur enam tahun. Tak hanya itu, kita juga cenderung melihat orang-orang minoritas dan mereka yang bukan berasal dari grup kita sebagai “manusia-manusia yang kurang berevolusi”, memunculkan apa yang disebut sebagai “dehumanisasi”.

Kekerasan, schadenfreude, dan dehumanisasi tentunya memiliki ikatan yang erat dengan satu sama lain. Pandangan dehumanisasi terhadap seseorang yang dianggap inferior akan membuat kita lebih cenderung melakukan kekerasan terhadap orang itu. Melihat kekerasan dan kesengsaran yang dirasakan olehnya membuat kita merasakan schadenfreude dan juga berpikir bahwa ia sebetulnya layak mendapatkan itu.

Oleh karena ini semua, hierarki manusia terus-menerus dipelihara. Perbedaan tingkatan dan jarak ketimpangan ini juga semakin diperparah seiring dengan sejarah panjang kolonialisme dan semakin terkoneksinya masyarakat kita dengan masyarakat-masyarakat lain. Hierarki dan prasangka buruk terhadap mereka yang berada di bawah yang hanya terkonsentrasi dalam satu komunitas masyarakat menjadi tersebar ke komunitas lain. Hal ini muncul lewat rasisme dan klasisme yang mengkotak-kotakkan seseorang berdasarkan warna kulit, agama, bahasa, dan kekuatan ekonominya.

Memang apabila dilihat dari kacamata evolusi, prasangka, ketidakpercayaan, serta emosi-emosi negatif lainnya adalah cara kelompok untuk bertahan hidup. Namun melihat perkembangan sosio-teknologi manusia dan masyarakat sekarang, tentunya cara pandang hitam-putih ini tidak lagi diperlukan. Justru hal-hal ini malah menghambat kemajuan atau bahkan memperburuk situasi dan kondisi masyarakat. Karena di akhir hari, yang paling diuntungkan dari hal ini adalah mereka yang berkuasa.

Kalau menurutmu sendiri bagaimana?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *