Search
Generic filters
Exact matches only
Filter by Custom Post Type

Masa Depan Manusia Untuk Seratus Tahun ke Depan, Baik atau Buruk

0
0
3 months ago

Setiap hari, kita dibombardir dengan berita-berita buruk soal bumi. Dari buruknya kualitas udara kotakota besar Indonesia, kebakaran hutan tahunan yang sengaja dilakukan untuk membuka lahan baru (seperti yang terjadi di Amazon beberapa minggu terakhir), melelehnya lapisan es di Kutub Utara yang diakibatkan oleh kenaikan suhu bumi tiap tahun mulai mengancam berbagai banyak spesies hewan, tumbuhan, dan, yep, manusia juga.

Melihat bahwa mayoritas kejadian di atas diakibatkan oleh ulah manusia (meskipun tidak semuanya sih, hehe), apakah masih ada harapan dan masa depan untuk anak dan cucu kita kelak? Setidaknya untuk seratus tahun ke depan? 

Apa? Pertanyaannya terlalu egois?

Ya memang, harus diakui, wong kita yang berbuat, kita juga yang masih berharap bumi dan manusia sebagai spesies masih bisa selamat hingga tahun 3000. Tapi tak apa lah, marilah kita berimaginasi sedikit tentang apa yang akan (dan bisa) terjadi ke manusia seratus tahun ke depan. 

Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh Scientific American terhadap dua puluh ilmuwan terkemuka, manusia sebagai spesies masih memiliki kesempatan besar untuk selamat. Menurut Profesor fisika dan astronomi Carlton Caves, manusia memiliki kesempatan besar untuk selamat, bahkan di skenario perang nuklir atau bencana ekologis besar yang diakibatkan oleh perubahan iklim. Tapi ya lagi-lagi tentu tidak semuanya selamat, mungkin hanya yang terpilih saja (ehemcontohnyaorang-orangkayaehem).

Pernyataan yang kurang lebih sama juga diucapkan oleh Profesor Edward O. Wilson dari Harvard. Ia menunjukkan satu-satunya cara bagi manusia untuk menghindari “kepunahan keenam” adalah dengan “mengawetkan” habitat dan ekosistem yang kita punya dengan mengkatalogkan sekitar sepuluh juta spesies yang masih tersisa sekarang. Dari sepuluh juta ini, baru dua juta yang tercatat. Jalan masih panjang, bung!     

Ngomong-ngomong soal “panjang”, laju teknologi yang pesat sekarang berhasil membantu manusia hidup lebih panjang. Salah satu terobosan teknologi yang membantunya adalah replika jaringan tubuh manusia yang sedang dikembangkan. Ada kemungkinan beberapa abad ke depan kita bisa mereplika semua jaringan tubuh manusia, seperti yang dikatakan oleh Profesor Robert Langer dari MIT. Namun tentunya otak akan menjadi bagian tubuh yang paling belakang bisa direplika karena strukturnya yang sangat rumit dan sulit sekali untuk dimengerti.

Hal lainnya yang juga penting bagi umat manusia adalah apakah kita bisa menjadi masyarakat yang lebih setara, terutama dalam urusan gender? Tentu saja bisa. Profesor Londa Schiebinger dari Stanford menyarankan perubahan institusional besar-besaran dengan merekrut lebih banyak perempuan ke bidang sains dan teknologi, membuat kebijakan yang ramah terhadap perempuan dan keluarga, serta menghilangkan stigma dan stereotip gender. 

Salah satu keprihatinan terbesar sekarang adalah bagaimana kita bisa tetap memproduksi makanan tanpa semakin mempercepat perubahan iklim dan perusakan habitat. Profesor Pamela Ronald dari UC Davis menyatakan tiga hal utama yang bisa dilakukan: kurangi membuang panen dan makanan berlebih, serta konsumsi daging. Namun yang paling penting adalah membuat kultur pertanian berkelanjutan yang mengintegrasikan teknologi biji dan praktek manajemen yang lebih baik, serta mengedukasi konsumen tentang harga dan tantangan yang dihadapi oleh para peternak untuk memproduksi daging yang mereka konsumsi.

Namun apabila semua usaha gagal, bisakah kita pindah dari bumi dan “mengkolonisasi” planet lain? Catharine A. Conley dari NASA menyatakan bahwa kemungkinannya sangat kecil. Kita masih tidak memiliki pemahaman atau bahkan cara untuk mereplika atmosfir bumi – padahal hal ini sangat penting untuk mentransfer ekosistem yang kita punya di bumi ke planet lain. Skeptismenya ini juga dikarenakan oleh betapa kecilnya pemahaman yang kita punya akan laut, meskipun laut mengisi tujuh puluh persen bumi.

Artificial Intelligence

Namun yang paling penting dan paling dekat dengan kita adalah permasalahan ketidaksetaraan. Permasalahan ini sempat disebutkan oleh Stephen Hawking yang menyatakan perkembangan AI sekarang akan menjadi akhir dari umat manusia. Lalu apa hubungannya ketidaksetaraan dengan perkembangan AI? 

Tentu saja orang-orang pertama yang akan mendapatkan AI adalah orang-orang kaya, para satu persen dari populasi dunia, yang tentunya juga yang mengontrol mayoritas industri dunia. Adanya AI berarti otomasi mayoritas pekerjaan manusia – yang berarti sembilan puluh sembilan persen manusia yang tidak memiliki teknologi AI – memiliki kemungkinan untuk tidak memiliki pekerjaan dan uang. Ini adalah hal yang cukup ironis mengingat seharusnya teknologi AI membantu manusia untuk hidup lebih mudah, bukannya membuat manusia semakin menderita.

Meski begitu, ada yang menolak anggapan otomasi pekerjaan akan membuat pekerjaan menghilang dan membuat manusia tidak lagi bekerja. Argumen mereka, memang sekarang pekerjaan-pekerjaan kerah biru dengan bayaran rendah digantikan oleh mesin, tapi pada akhirnya para pekerja ini beralih profesi ke bidang lain, seperti ke industri servis yang sedang naik daun.

Nah, begitulah kira-kira masa depan yang diprediksikan oleh para ahli. Kalau menurutmu sendiri, bagaimana masa depan manusia dalam seratus tahun ke depan? 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *