Search
Generic filters
Exact matches only
Filter by Custom Post Type

Hedonic Treadmill: Kebahagiaan yang Berjalan di Tempat

0
0
2 months ago

Dulu, sebagai mahasiswa, aku merasa gaya hidupku tidak cukup bahagia. Makan nasi kucing lauk tempe mendoan setiap malam dan sarapan Indomie Goreng setiap pagi itu rasanya tak cukup untuk menjalani hidup yang bahagia. Maka, aku mulai mencari-cari kerja sampingan untuk mendapatkan uang tambahan. Dengan uang tambahan itu, aku mulai sering ‘nongki’ di kedai-kedai kopi yang saat itu belum menjamur seperti sekarang. Ya, before it was cool. Kemudian, setelah beberapa waktu, ‘nongki’ di kedia kopi menjadi suatu rutinitas. Rutinitas ‘nongki’ itu kini serasa tak cukup menyenangkan. Setelah lulus kuliah dan kini bekerja, penghasilanku pun bertambah. Kini, setiap malam, paling tidak aku mengeluarkan dua puluh ribu rupiah untuk makan malam. Itu pun rasanya tak cukup membuat diri ini bahagia.

Tentu pengalaman ini bukan pengalamanku seorang. Hampir setiap orang mengalami ‘hedonic treadmill’. Menurut teori ini, ketika seseorang menghasilkan lebih banyak uang, ekspektasi dan keinginannya meningkat secara bersamaan. Michael Eysenck, seorang psikolog Inggris, membandingkan pencapaian kebahagiaan (pursuit of happiness) dengan seseorang yang sedang menggunakan treadmill. Ia harus terus berjalan tetapi terus tetap tinggal di tempat yang sama. Berdasarkan teori ini, kebahagian akibat suatu peningkatan baik penghasilan maupun jabatan hanyalah suatu euforia sementara. Pada akhirnya, tingkat kebahagiaan akan kembali ke normal, titik baseline happiness. 

Sudah tau begitu, kok tetap terus-terusan terulang? Mengapa kita tetap terus konsumtif dan berharap terjadinya peningkatan kebahagiaan permanen? 

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu mengetahui apa yang menyebabkan atau paling tidak, kekuatan apa yang mempreservasi pola kehidupan manusia yang seperti ini. Kapitalisme? Atau jangan-jangan, pola seperti ini memang sudah menghiasi perjalanan panjang sejarah peradaban manusia, bahkan sebelum revolusi industri. 

Kita sering beranggapan bahwa fenomena hedonic treadmill pasti merupakan fenomena baru. Namun, berdasarkan kajian sejarah fenomena ini sudah berlangsung sejak lama, bukan hanya di level personal, tapi manusia sebagai spesies. 

Revolusi pertanian sebenarnya tak perlu terjadi. Manusia saat itu cukup mengumpulkan hasil hutan dan memburu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi mereka. Yuval Noah Harari menjelaskan revolusi pertanian di karyanya, Sapiens: A brief history of humankind. Ia menyebut revolusi pertanian sebagai History’s Biggest Fraud. Jumlah populasi manusia tujuh puluh ribu tahun lalu tentu tak banyak. Hasil hutan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Tetapi manusia mulai melakukan domestikasi tumbuhan dan hewan ternak untuk memulai suatu revolusi: agricultural revolution. 

Revolusi tersebut diharapkan meningkatkan taraf hidup manusia dan dengannya kebahagiaan. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya. 

“The pursuit of an easier life resulted in much hardship”

Ketika manusia hidup dalam masyarakat petani, jumlah populasi manusia semakin bertambah. Pertanian membutuhkan jumlah manpower yang besar. Oleh itu, untuk mendukung kegiatan pertanian, manusia bereproduksi lebih banyak dari sebelumnya. Memang pangan semakin bertambah, tetapi tetap tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan populasi manusia yang juga semakin bertambah seiring bertambahnya jumlah lahan pertanian. 

Revolusi industri pun tak jauh beda. Manusia sudah memproduksi pangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia di zamannya, tetapi revolusi industri kemudian tetap terjadi untuk menghasilkan produksi yang lebih banyak lagi. Namun, alih-alih meningkatkan taraf hidup manusia, ia malah tak mengubah apa-apa. Surplus produksi tidak secara langsung membuat manusia hidup bahagia. Manusia malah dieksploitasi dan teralienasi untuk terus menghasilkan surplus produksi yang pada akhirnya tak membuat siapapun lebih bahagia dari sebelumnya. 

Is there a way out? 

Berbagai pembahasan mengenai hedonic treadmill akhir-akhir ini menyarankan agar kita keluar dari gaya hidup seperti ini. Pertanyaannya, bisakah kita? 

Tidak semudah itu, Kasim! 

Di era revolusi pertanian, manusia mungkin sudah sadar bahwa taraf hidup mereka tidak meningkat, malah mungkin lebih buruk. Tetapi revolusi pertanian bukanlah suatu revolusi instan, ia meruapakan perubahan lintas generasi. Di saat manusia sadar akan buruknya revolusi pertanian, it’s too late. Sudah terlambat untuk melakukan apapun. Manusia sudah lupa caranya kembali hidup seperti era pra-revolusi. Manusia generasi itu sudah tak dapat bertahan hidup dengan sekadar mengumpulkan hasil hutan. 

Ketika kita sudah meningkatkan taraf hidup kita, kita lupa cara hidup kita sebelumnya. Bayangkan saja jika kita harus hidup tanpa smartphone? Kita lupa bahwa dulu kita pernah hidup tanpa smartphone. There’s no going backOr is there one

Jika kebahagiaan selalu bersifat sementara, euforia sesaat, lalu kita akan kembali ke titik baseline happiness, bagaimana jika kita mengalami suatu kesedihan, akankah kita kembali ke titik baseline happiness yang sama? Menurut beberapa pakar psikologi, ketika seseorang mengalami kejadian traumatis, pada akhirnya, setelah beberapa lama, ia akan kembali ke titik normal. Misalnya, ketika kita mengalami kesedihan akibat ditinggalkan pacar. Mungkin kita akan bersedih beberapa hari. Tetapi kemudian kehidupan akan kembali normal. Kita kembali ke titik baseline happiness. Mungkin begitu pula dengan gaya hidup. Kita akan bersedih beberapa hari ketika kita memutuskan untuk tidak lagi menggunakan smartphone terbaru atau tidak lagi nongkrong di kafe mahal, tetapi kemudian, setelah berjalannya waktu, kita akan kembali ke titik normal. 

Masalahnya, kejadian traumatis seperti ditinggal pacar atau mengalami kecelakaan adalah kejadian yang tak dapat dihindarkan. Kita tidak secara sadar memilih untuk mengalami kejadian tersebut. Ya iyalah, siapa juga yang mau kecelakaan? Untuk berhenti menjalani gaya hidup konsumtif, dibutuhkan suatu upaya yang besar. Paling tidak kita harus berkorban beberapa hari atau bahkan bulan sebelum sepenuhnya kembali ke titik normal setelah memutuskan untuk meninggalkan smartphone. Relakah kita?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *