Viewing 1 post (of 1 total)
  • Author
    Posts
  • #10169
    Avatar
    postcapital
    Participant

    Dibawah teriknya sinar matahari, teman saya bercerita tentang pengalamannya mencari kontrasepsi darurat di siang bolong. Kontrasepsi itu bukan untuk dirinya, tapi untuk teman dekatnya yang mengalami insiden kondom bocor. “Ngeselin banget pokoknya,” ucapnya sambil geleng-geleng kepala. “Susah cuy, harus beli online. Mana mahal lagi. Sebiji ditembak 80 ribu.”

    Kontrasepsi darurat yang dimaksud teman saya adalah pil hormon yang berfungsi untuk mencegah kehamilan tidak diinginkan. Pil yang biasa ditemui dengan nama Postinor ini efektif apabila dikonsumsi dalam rentang 72 jam setelah hubungan seks. Konsumennya bermacam-macam, dari pasangan menikah maupun belum menikah yang mengalami insiden kondom bocor, enggak sengaja keluar di dalam, hingga korban pemerkosaan.

    Sayangnya meskipun memiliki fungsi yang sangat berguna, apotek maupun petugas kesehatan Indonesia seringkali enggan menjual obat ini secara terbuka. Mereka biasanya hanya mau menjual obat ini ke pasangan yang bisa membawa bukti surat nikah. Sementara untuk korban pemerkosaan, mereka harus menjalani proses birokrasi hukum Indonesia yang belibet, lama, dan tidak ramah penyintas sebelum bisa mendapatkan obat itu.

    Mengapa petugas medis enggan sekali menjual obat sepenting ini secara bebas? Mereka bersembunyi dibalik sentimen konservatif yang menganggap relasi seksual di luar ikatan perkawinan itu tabu. Bahkan di skala nasional, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) hanya menyediakan kontrasepsi darurat untuk pasangan yang telah menikah.

    Kebijakan BKKBN yang pilih-pilih ini mengakibatkan para pasangan yang belum menikah dan korban pemerkosaan beralih ke pasar gelap untuk membeli obat tersebut. Harganya pun dinaikkan berkali-kali lipat. Untuk mendapatkannya pun sulit, harus sembunyi-sembunyi dan untung-untungan karena stok sering habis.

    Sudah seharusnya pemerintah sadar bahwa isu kesehatan reproduksi adalah permasalahan kesehatan nasional yang tak hanya melibatkan pasangan menikah saja. Permasalahan kesehatan ini pun seharusnya tidak dicampur-adukkan dengan nilai-nilai keagamaan konservatif. Penjualan kontrasepsi yang bebas dan aman, diikuti dengan pendidikan seks yang komprehensif sudah seharusnya digalakkan secara nasional.

    Bagaimana menurutmu? Apakah kita harus melegalkan penjualan berbagai macam kontrasepsi atau tidak?

Viewing 1 post (of 1 total)

You must be logged in to reply to this topic.