Viewing 1 post (of 1 total)
  • Author
    Posts
  • #24000
    sakakibaryo
    sakakibaryo
    Participant


    Skripsi, adalah sebuah kata yang tabu diucapkan kepada mahasiswa semester tua. Essay dan artikel, juga mungkin adalah kata – kata yang paling dihindari oleh mahasiswa, terutama dalam bentuk tugas atau ujian. Ironis ketika di institusi akademik yang salah satu fungsinya adalah untuk memproduksi publikasi dan tulisan akademik, penghuni dengan jumlah terbesarnya justru ogah untuk melakukannya. Banyak alasan yang dijadikan tameng terhadap pertanyaan ini. Mulai dari sulitnya mencari materi, sulitnya menuang ide ke dalam tulisan, sulitnya merangkai kata – kata yang pas, atau ya hanya sekedar malas. Tetapi salah satu alasan yang paling sering digunakan mungkin adalah “takut salah”.

    Ya, seringkali mahasiswa dilanda ketidakpercayaan terhadap kapabilitas diri sendiri dalam hal menulis, baik dalam hal teknis maupun substantif. Memang, menulis bukan untuk semua orang, tetapi untuk mahasiswa, menulis adalah sebuah keahlian yang wajib dimiliki, mau tidak mau. Karena, selain akan dihadapi dengan tugas menulis essay atau artikel, pada akhirnya seorang mahasiswa akan berhadapan dengan yang namanya skripsi. Skripsi, sebuah karya tulis ilmiah sebagai syarat kelulusan. Skripsi, sebuah momok bagi kebanyakan mahasiswa.

    Untuk menulis dan memproduksi sebuah karya tulis ilmiah memang membutuhkan banyak bekal. Banyak membaca adalah bekal paling utama untuk membuat karya tulis ilmiah. Mempelajari jenis – jenis tulisan, struktur tulisan, tata cara mengutip dan daftar pustaka, dan hal – hal teknis lainnya datang pada tahap selanjutnya. Yang paling akhir menghalangimu adalah rasa ketidakpercayaan diri akan substansi tulisan yang kamu tulis, atau rasa malas dan godaan untuk prokras.

    Rasa malas itu bahasan lain, tetapi kalau kamu khawatir tentang substansi tulisanmu, kamu tidak perlu khawatir. Skripsi, tesis, disertasi, artikel jurnal ilmiah, dan sejenisnya bukanlah kitab suci. Karya tulismu tidak harus sempurna, malahan mustahil untuk sempurna. Sebuah karya tulis atau hasil penelitian yang bagus adalah karya tulis yang memberikan ruang untuk kritik, serta memberikan kemungkinan untuk adanya penelitian atau karya tulis lanjutan, baik yang bersifat komplementer atau mengkritik secara substansi.

    Menurut Karl Popper, filsuf Filsafat Ilmu, salah satu syarat sah sesuatu bisa disebut ilmiah adalah bisa difalsifikasi atau disalahkan. Maka dari itu, apabila dalam tulisanmu terdapat bagian – bagian yang dapat dikritik atau ditentang, semakin ilmiah tulisanmu itu. Selain itu, khusus untuk skripsi, bab pertama atau proposal adalah bab paling penting dalam skripsimu. Pada bab ini kamu dapat menentukan batasan – batasan penelitianmu, baik secara lingkup penelitian, teori yang dipakai, serta definisi – denifisi yang dipakai. Kalau kamu dapat menggunakan hal ini dengan baik, ketika diserang oleh dosen penguji, kamu bisa ngeles dengan alasan “Skripsi saya tidak meneliti sampai ke situ”.

    Ya, karya tulis ilmiahmu tidak harus menjadi sebuah kitab suci yang dapat menjawab seluruh rumusan masalah di bab pertama. Tetapi bukan berarti kamu boleh menulis asal – asalan. Apabila kamu punya keinginan untuk menjadi penulis, kamu harus tetap banyak latihan menulis, dan juga banyak membaca.

    Bagaimana, sudah siap untuk lanjut menulis?

Viewing 1 post (of 1 total)

You must be logged in to reply to this topic.