Search
Generic filters
Exact matches only
Filter by Custom Post Type

Dilema Pesepakbola yang Tak Kalah Galau dari Maudy Ayunda

0
0
4 weeks ago

Beberapa waktu lalu, penyanyi tenar Maudy Ayunda harus menghadapi suatu dilemma besar. Ia harus memilih antara melanjutkan kuliah S2 di Harvard atau Stanford. Maudy memiliki potensi besar. Ia harus memilih tempat kuliah yang ideal agar dapat mengasah potensinya dengan maksimal. Namun, tak hanya Maudy yang kini harus menghadapi dilemma besar. Beberapa talenta sepakbola juga kini harus menghadapi dilemma yang tak kalah besarnya. Mereka harus berhati-hati memilih klub mereka selanjutnya. Jika salah pilih, bisa jadi talenta mereka disia-siakan. Berikut kompilasi talenta muda berpotensi yang kini menghadapi dilemma yang tak kalah galau dari Maudy Ayunda.

  • Callum Hudson Odoi

Callum Hudson-Odoi kini bermain untuk Chelsea. Ia berhasil menembus skuad utama sejak tahun lalu. Berposisi sebagai winger dan memiliki skill dan kecepatan di atas rata-rata. Di bursa transfer Januari lalu, klub asal Jerman, Bayern Munchen tertarik untuk mengontrak sang winger muda. Namun, pada akhirnya ia memutuskan untuk tetap bermain di Stamford Bridge. Meski begitu, kabarnya ia masih menimbang-nimbang keputusan untuk masa depannya. Dengan potensinya yang cukup tinggi, tentu Hudson-Odoi akan terus dilirik oleh klub-klub besar. Tentu menjadi dilemma bagi Hudson-Odoi untuk memutuskan tetap tinggal di Chelsea atau memilih klub lain untuk memaksimalkan potensi dirinya. Chelsea sendiri terkenal sering menyia-nyiakan pemain mudanya. Chelsea seringkali meminjamkan mereka ke klub kecil. Pemain yang dipinjamkan Chelsea terkenal dengan julukan ‘The Loan Army’. Bermain di klub kecil tentunya tak akan menjadi pilihan bagi Hudson-Odoi. Di sisi lain, jika ia tetap bergabung di tim utama, kesempatannya berkembang Hudson-Odoi pun tampak sulit dengan adanya Willian, Hazard dan Pedro yang selalu menjadi pilihan utama Sarri. Apalagi musim depan Chelsea sudah mengontrak Christian Pulisic, yang juga bermain di posisi winger. Sudah pasti ia akan lebih sering duduk di bangku cadangan ketimbang bermain di lapangan. Pindah ke klub besar lainnya, seperti Bayern Munchen akan menjadi opsi yang menggiurkan. Apakah Hudson-Odoi akan tetap berseragam Chelsea musim depan?

  • Adrien Rabiot

Gelandang PSG, Adrien Rabiot sempat dirumorkan akan berseragam FC Barcelona pada bulan Januari lalu. Tetapi, hingga akhir bursa transfer, kepindahannya belum bisa terwujud. Barcelona malah sudah memastikan transfer gelandang muda asal Belanda, Frenkie De Jong. Rabiot “terpaksa” bertahan di PSG paling tidak hingga akhir musim nanti. Kontrak Rabiot di PSG akan berakhir pada musim panas 2019. Selain Barcelona, beberapa klub besar seperti Bayern, Juventus, Liverpool, Manchester City, Real Madrid dan Tottenham dikabarkan tertarik untuk mengontrak sang gelandang. Rabiot memiliki potensi yang besar, usianya juga baru dua puluh tiga tahun sehingga tak heran jika banyak klub besar yang mengincarnya. Menarik untuk terus kita amati di klub mana Rabiot akan berlabuh.

  • Mesut Ozil

Mesut Ozil mungkin sudah tak semuda dulu lagi seperti saat ia pindah dari Werder Bremen ke Real Madrid tetapi skill dan visi permainan Ozil masih menjanjikan. Ia dikabarkan tak betah di Arsenal. Sejak pergantian kepelatihan Arsenal awal musim ini, Mesut Ozil memang tak lagi menjadi pilihan utama sang pelatih anyar, Unai Emery. Ozil sering terpaksa duduk di bangku cadangan. Gaya permainan Ozil tampaknya memang kurang cocok dengan gaya permainan Unai Emery. Ozil lebih nyaman bermain di posisi gelandang serang, sementara Unai Emery sendiri lebih sering menggunakan formasi 4-3-3. Jika pun bermain, Ozil dimainkan sebagai sayap kiri di formasi tersebut. Hasilnya pun tak cukup baik. Ozil dianggap tak cukup cepat dan dianggap malas. Jika Ozil tetap di Arsenal, hanya ada dua solusi dari dilemma; Ozil beradaptasi dengan sistem baru Emery atau Emery yang beradaptasi dengan gaya bermain Ozil. Kedua opsi sepertinya tak mungkin dilakukan. Oleh itu, kemungkinan besar, Ozil akan menghadapi dilemma pribadi, ke manakah ia akan berlabuh selanjutnya?

  • Eden Hazard

Hazard memang sudah bertahun-tahun menjadi incaran Real Madrid. Di bursa transfer Januari lalu, sempat dikabarkan bahwa Real Madrid kembali mengincar Hazard. Kini, di usia dua puluh tujuh tahun dan mendekati umur rata-rata puncak karir pemain sepakbola, ia harus memutuskan pilihannya: tetap di Chelsea atau pindah ke Real Madrid sebelum terlambat. Real Madrid sendiri sedang dalam posisi yang buruk sejak ditinggal sang superstar, Cristiano Ronaldo dan pelatih, Zinedine Zidane. Setelah ditinggal Cristiano Ronaldo, tampak kekosongan di posisi sayap kiri Real Madrid. Pemain muda seperti Marco Asensio dan Vinicius Jr tampaknya tak cukup berpengalaman untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Ronaldo. Hazard diharapkan dapat mengisi kekosongan di posisi tersebut. Namun, apakah Hazard akan meninggalkan Chelsea demi Real Madrid?

  • Mauricio Pocchetino

Mauricio Pocchetino memang sudah tak seusia Maudy Ayunda, tetapi ia masih bisa disebut sebagai pelatih muda. Nama Mauricio Pocchetino mulai tenar di tanah Inggris sejak ia melatih Southampton. Sebelumnya, Pocchetino melatih RCD Espanyol di Liga BBVA. Sejak musim 2014, ia melatih Tottenham Hotspurs. Meski tak sedikit fans yang mencercanya karena belum berhasil meraih piala, menurut penulis, Mauricio Pocchetino telah melakukan transformasi yang luar biasa. Ia berhasil memaksimalkan potensi pemain muda dan menunjukkan kualitas permainan yang cukup bagus. Akhir-akhir ini terdengar kabar bahwa Real Madrid tertarik menggunakan jasa sang pelatih. Ketertarikan Real Madrid tentu membuat Pocchetino menghadapi dilemma besar. Di satu sisi, ia telah berhasil mentransformasi Tottenham dan membangun skuad yang ideal untuk memainkan gaya sepakbolanya. Namun, di sisi lain, Real Madrid adalah klub besar yang tentu datang dengan tawaran yang menggiurkan. Apakah Pocchetino akan tetap bertahan di Tottenham atau berlabuh di Real Madrid?

Dilemma pesepakbola tak kalah menarik untuk diperhatikan. Setiap pesepakbola pasti menginginkan pencapaian individual dengan menyatut nama klub tenar untuk menghiasi CV mereka. Menuliskan nama Real Madrid atau FC Barcelona di CV sepakbola mereka tentu tak kalah mentereng dibandingkan menuliskan nama Stanford atau Harvard. Tentu ketika memutuskan masa depan karirnya, pesepakbola di atas tak kalah galau dengan Maudy Ayunda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *