Search
Generic filters
Exact matches only
Filter by Custom Post Type

Data Kita: Tantangan dan Harapan

1
0
2 months ago
Data Kita: Tantangan dan Harapan

Data Kita: Tantangan dan Harapan

Ekonomi kini hampir tidak dapat dipisahkan dengan teknologi. Pembahasan tentang peran teknologi dalam ekonomi semakin mendalam pada tahun 2018. 

Topik terpenting yang semakin didalami pada tahun ini adalah Big Data. Artikel dari The Economist, menunjukkan bahwa data kini menjadi sumber daya ekonomi yang sangat bernilai. “21 Lessons for 21st Century”, karya tulisan Yuval Noah Harari, menjelaskan secara detil bagaimana akses ke big data dapat digunakan oleh perusahaan teknologi untuk memengaruhi cara kita berpikir termasuk perilaku kita dalam berbelanja. Dengan menggunakan kekuatan data, perusahaan teknologi akan mendapatkan akses ke kartu kredit kita. Namun yang lebih berbahaya adalah kuasa big data dalam memengaruhi perilaku politik kita. 

Salah peristiwa penting terkait hal ini yang perlu disoroti adalah testimoni pendiri Facebook, Mark Zuckerberg di kongres Amerika Serikat. Mark Zuckerberg dipanggil kongres akibat skandal Cambridge Analytica. Cambridge Analytica, yang membantu konsultan kampanye Donald Trump terungkap menggunakan data personal yang ia panen dari Facebook untuk kepentingan politik. Illustrasi yang lebih detil mengenai skandal ini dapat dilihat di tautan ini. Baru-baru ini, CEO Google, Sundar Pichai juga dipanggil kongres untuk menyampaikan testimoni. Dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan anggota kongres di kedua pemanggilan ini, dapat disimpulkan bahwa anggota kongres sebagai pembuat kebijakan masih sangat awam tentang internet dan teknologi. 

Koleksi big data yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan besar amatlah berbahaya sehingga perlu diregulasi. Mungkin dengan cara memecahkan perusahaan-perusahaan besar seperti Google, Facebook dan Amazon seperti yang ditawarkan di artikel ini. Tetapi setelah melihat ketidakpahaman anggota kongres mengenai internet dan model bisnisnya menunjukkan bahwa sebaiknya kita tidak mengandalkan pemerintah untuk meregulasi perusahaan-perusahaan besar seperti Facebook dan Google. Gerakan masyarakat akar rumput seperti #deleteFacebook menjadi satu-satunya opsi untuk menyelamatkan diri dari bahaya koleksi big data. 

Mungkin pembahasan big data terdengar asing bagi kita, masyarakat Indonesia. Liputan negatif mengenai perusahaan tekonologi asli Indonesia masih sangat jarang. Tanpa kita sadar, perusahaan seperti Go-Jek, juga telah mengoleksi data personal kita. Artikel Tirto.id, membahas topik ini dengan cukup jelas. Perusahaan e-commerce seperti Tokopedia, Bukalapak dan lain-lain pun terkesan menggunakan data personal kita untuk menyampaikan iklan-iklan produknya yang secara spesifik menyasar kita. 

Harapan 

Ketika pemerintah sudah tidak dapat diandalkan lagi untuk meregulasi perusahaan-perusahaan besar seperti Facebook, Google dan Amazon, mungkin kita harus mulai mencari cara alternatif. Mungkin blockchain dapat menjadi salah satunya. Kita lebih mengenal blockchain sebagai platform untuk cryptocurrency seperti Bitcoin dan Ethereum. Padahal, kapabilitas blockchain tidak terbatas pada cryptocurrency saja. Berikut kompilasi artikel Vox, yang membahas dasar bagaimana blockchain bekerja. Esensinya, blockchain adalah platform yang terdesentralisasi yang tak terpengaruh oleh regulasi pemerintah. Blockchain = anarki.

Selain kapabilitasnya untuk membangun suatu mata uang baru, blockchain kini dapat menjadi platform kepemilikan produk digital. Salah satunya adalah cryptokitties. Video berikut menjelaskan bagaimana konsep kepemilikan cryptokitties. Jika blockchain dapat menyetor mata uang dan produk, tentu ia juga dapat menyetor data pribadi sehingga dapat menjadi media sosial alternatif. Beberapa platform media sosial sudah menggunakan blockchain. Apa saja media sosial tersebut dapat dilihat di artikel dari Hackernoon.

Memandang bahaya koleksi big data yang selalu digunakan untuk kepentingan korporat dan tidak mampu diregulasi pemerintah, platform blockchain dapat menjadi alternatif untuk menyelamatkan diri.

1 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *