Search
Generic filters
Exact matches only
Filter by Custom Post Type
Search Results for:
KataKita #6: Apa yang mereka tulis di bio dating apps?
Category: Bicara Video Author: bicaraco Date: 8 months ago Comments: 0
KataKita #6: Apa yang mereka tulis di bio dating apps?KataKita #6: Apa yang mereka tulis di bio dating apps?

Nah, katakita kali ini menggali pengalaman orang-orang pake dating apps! Kamu punya cerita menarik? Tulis di kolom komentar dong!

Reporter Rizqi Isnurhadi

Videographer/Motion Graphic Artisit Steven Suntoro

Kunjungi juga web Bicara.co di https://www.bicara.co dan Instagram Bicara di https://www.instagram.com/bicaraforum/

0

Apa itu ambivert? | Celoteh w/ Nada Syifaa
Category: Bicara Video Author: bicaraco Date: 8 months ago Comments: 0
Apa itu ambivert? | Celoteh w/ Nada SyifaaApa itu ambivert? | Celoteh w/ Nada Syifaa

Kamu udah tau introvert dan extrovert? Tapi udah tau belum ambivert?

Tonton deh biar tau! [BICARA TV] Jangan lupa subscribe biar gak ketinggalan episode celoteh seterusnya! #Celoteh #Bicara #diambukanpilihan

Presenter: Nada Syifaa

Scriptwriter: Rizqi Isnurhadi

Videographer: Steven Suntoro

Follow: www.instagram.com/bicaraforum Kunjungi: www.bicara.co

0

KataKita #5: Kisah Nyata Pengalaman Dating Apps
Category: Bicara Video Author: bicaraco Date: 8 months ago Comments: 0
KataKita #5: Kisah Nyata Pengalaman Dating AppsKataKita #5: Kisah Nyata Pengalaman Dating Apps

Nah, katakita kali ini menggali pengalaman orang-orang pake dating apps! Kamu punya cerita menarik? Tulis di kolom komentar dong!

Reporter Rizqi Isnurhadi

Videographer/Motion Graphic Artisit Steven Suntoro

Kunjungi juga web Bicara.co di https://www.bicara.co dan Instagram Bicara di https://www.instagram.com/bicaraforum/

0

Selamat Datang di Bicara TV
Category: Bicara Video Author: bicaraco Date: 8 months ago Comments: 0
Selamat Datang di Bicara TVSelamat Datang di Bicara TV

Bicara TV adalah channel YouTube yang merupakan bagian dari bicara.co. Bicara.co adalah platform sosial bagi berbagai individu maupun komunitas untuk berbagi cerita, pendapat dan pengalaman. Kunjungi juga website kami di https://bicara.co Ikuti Instagram kami di https://www.instagram.com/bicaraforum/

0

Apa sih Quarter-Life Crisis?
Category: Bicara Blog Author: bicaraco Date: 9 months ago Comments: 0

Quarter-life crisis adalah periode di mana seseorang berusia 20-an mengalami insecurity, keraguan akan diri-sendiri, kecemasan, kehilangan motivasi & kebingungan sehubungan dengan masa depannya. Usia 20-an adalah fase peralihan. Biasanya, terjadi perubahan besar pada masa transisi dari remaja akhir ke dewasa awal. Perubahan ini biasanya diiringi dengan tekanan besar.

Di usia ini, kamu menghadapi banyak pilihan. Tapi, kamu merasa tak bisa menentukan pilihan mana yang tepat. Kamu mulai mempertanyakan tujuan hidup, atau kamu merasa tujuan kamu selama ini tidak realistis.

Banyak sumber kegalauan yang dapat memicu quarter life crisis; diantaranya keuangan, karir atau bahkan hubungan percintaan. Biasanya, orang yang mengalami quarter-life crisis sering mempertanyakan; “Apakah pilihanku sudah tepat?”, “Apa yang sebenarnya ingin aku lakukan?, “Kok teman-temanku terlihat jauh lebih bahagia dan sukses daripada aku?”, “Untuk apa sebenarnya aku hidup?”.

Nah, kalau kamu merasakan gejala-gejala tersebut, ini sikap yang harus kamu ambil

Pertama, kamu harus memahami bahwa Quarter-life Crisis adalah hal yang normal. Tenang aja, kamu gak sendiri kok. Jangan menganggap fase ini adalah fase yang penuh beban atau krisis, tapi anggaplah ini hanya sebuah fase kehidupan yang akan membawa kamu menuju ke fase kehidupan yang selanjutnya.

Kedua, berhenti membanding-bandingkan diri kamu dengan orang lain. Sebaiknya kamu juga mengurangi atau berhenti membuka-buka media sosial untuk mengurangi potensi membanding-bandingkan diri kamu dengan orang lain.

Ketiga, jangan diam saja. Lakukanlah berbagai kegiatan. Cobalah untuk melakukan berbagai kegiatan seperti olahraga dan melakukan hobi atau kegemaran kamu lainnya. Dengan melakukan berbagai kegiatan tentunya akan mengalihkan pikiran-pikiran negatif yang ada di pikirkan kamu.

Keempat, berbagilah dengan orang lain. Kamu bisa menceritakan apa yang sedang kamu rasakan kepada sahabat-sahabat kamu dan keluarga kamu. Yakinlah bahwa dengan berbagi kamu akan merasa lebih tenang dan tidak merasa sendirian. Orang-orang yang ada di sekeliling kamu tentunya akan menghibur, menemani, dan membantu kamu melewati fase yang sulit ini.

Kelima, bicaralah pada diri kamu sendiri. Orang yang paling mampu dan paling ampuh untuk membuat dirimu bangkit dari kesulitan ya hanya diri kamu sendiri. Cobalah untuk diam dan berbicara kepada diri kamu, yakinkan diri kamu sendiri bahwa kamu adalah pribadi yang hebat dan kuat. Yakinkan diri kamu sendiri bahwa kamu mampu melewati segala sesuatu yang ada di hadapan kamu saat ini.

0

Mengapa Kita Harus Menghadapi Kematian dengan Berani
Category: Bicara Blog Author: bicaraco Date: 10 months ago Comments: 0
Bicara Kematian

Coba tanya ke orang yang dekat denganmu – baik teman, pacar, atau bahkan orang asing yang kamu temui di ruang publik: “hal apa yang paling kamu takuti dari hidup?”

Berani taruhan orang-orang akan mengatakan kalau mereka takut mati. Alasannya bisa macam-macam, dari tidak ingin meninggalkan orang-orang terkasih, takut masuk neraka karena dosa yang menggunung, takut terasa sakit ketika malaikat maut mencabut nyawa, dan alasan-alasan lainnya. Mau yang terdengar serius atau lucu, semua orang punya alasan kenapa mereka takut mati.

Meskipun banyak yang takut mati, anehnya mayoritas orang menganggap kematian masih jauh dari pandangan. Mereka menganggap kematian baru akan menghampiri ketika mereka sudah tua renta. Padahal ya yang namanya kematian bisa saja menghampiri kapan saja. Hari ini bisa saja sehat bugar, besok bisa jadi sudah terkapar di lantai, aspal, tanah, atau kasur. Wayoloh.

Dualitas ironis ini bukan hanya fenomena Indonesia saja loh, tapi juga global. Fenomena ini tak hanya muncul di negara-negara berkembang di mana spritualitas masih tinggi, tapi juga di negara maju. Ketakutan kematian pun juga menghampiri berbagai umur. Ironisnya lagi, nampaknya fenomena ini lebih terlihat di kalangan anak muda dibanding mereka yang tua. Penderitanya paling banyak berusia 20 tahun-an dan menurun seiring dengan bertambahnya usia. Yah, melihat prospek masa depan kita yang buruk, bakal lucu kalau banyak dari kita yang tidak ‘terjangkit’ ketakutan ini.

Dari segi psikologi, fobia kematian sendiri terbagi menjadi dua: nekrofobia yaitu ketakutan terhadap hal-hal berbau kematian dan thanatofobia yaitu ketakutan terhadap kematian diri sendiri. Thanatofobia lebih sering ditemukan dibanding nekrofobia. Bukan hal yang mengejutkan mengingat masyarakat masih menganggapnya sebagai topik tabu.

Fobia kematian bisa membuat penderitanya mengalami serangan panik dan terus-terusan memikirkan hal-hal seputar kematian. Dibiarkan saja tentunya akan membuat penderita terkonsumsi ketakutan irasional. Hal ini tentunya sangat destruktif, baik untuk kesehatan fisik dan mentalnya. Ironisnya, ini juga bisa mengantarkan seseorang ke kematiannya sendiri.

Sedangkan dari segi filosofis, filsuf Yunani Epicurus menyatakan bahwa “kematian [seharusnya] bukan menjadi perhatian kita, karena selama kita eksis, kematian tidaklah di sini. Dan ketika kematian terjadi, kita tidak lagi eksis.” Poin dari perkataan Epicurus adalah bahwa entitas material yang memiliki ruh pastinya akan mengalami kematian. Kehidupan berakhir di kematian adalah fakta material dan empiris yang tak bisa ditampik. Toh kalaupun kematian akhirnya terjadi, kamu tidak akan merasakannya karena kamu tidak lagi ‘hidup’.

Memang selain perasaan takut akan apa yang dirasakan sebelum mati, orang-orang juga takut akan apa yang terjadi atau menunggu mereka setelah kematian. Untuk mereka yang beragama Abrahamik (Judaisme, Islam, Kristen), ada neraka dan surga menunggu setelah hari penghakiman massal. Namun bagaimana dengan orang-orang yang mengenal konsep ‘karma’ dan ‘reinkarnasi’ seperti Buddhisme?

Di ajaran Buddhisme, kematian dibahas secara buka-bukaan dan ekstensif. Di awal menyebarnya ajaran ini, para biksu baru biasanya diajak untuk melihat proses kematian. Mereka disuruh untuk mengobservasi mayat hewan dan manusia yang ditinggalkan di alam liar selama berhari-hari.

Sekilas hal ini terdengar kejam, tapi sebetulnya hal ini sengaja dilakukan untuk membuka mata sekaligus menekankan konsep ‘reinkarnasi’ ke pikiran mereka. Kegiatan ini juga membiasakan mereka untuk berhadapan langsung dengan kematian, membuat mereka nyaman akan konsep kematian.

Kenyamanan terhadap konsep kematian merupakan hal yang krusial. Karena dalam reinkarnasi, tubuh hanyalah tempat tinggal sementara ruh dan kesadaran sebelum ia pergi lagi ke tubuh lainnya. Tubuhnya pun terus berubah, seiring dengan apa yang sang ruh dan kesadaran lakukan selama hidupnya. Perjalanan ruh ini akan terus berlanjut hingga akhirnya ia menemukan ‘kebenaran’ yang akhirnya bisa meriliskannya dari siklus reinkarnasi dan mengantarkannya ke Nirvana.

Meskipun kamu bukan Buddhis, bermeditasi soal kematian bisa menguntungkanmu dalam kehidupan. Dari memikirkan soal proses kematian hingga membayangkan apa yang terjadi setelah kamu meninggalkan hidup fana, kamu bisa memandang hidup dengan cahaya baru.

Dari hal tersebut, kamu akan menyadari bahwa hidup ini sebetulnya hanyalah perjalanan yang singkat dan sementara. Kamu akan mulai membangun rasa apresiasi terhadap kehidupan, karena setiap detik kehidupan berharga. Sehingga setiap nafas dan waktu yang kamu hirup dan jalani akan digunakan untuk melakukan hal-hal baik, alih-alih hal-hal hedonistik, materialistis, dan yang juga mungkin menyakiti makhluk hidup lain.

Jadi setelah semua ini, apakah kamu masih takut kematian? Atau justru malah menemukan makna baru dari kematian?

0

1 2 3 10