Search
Generic filters
Exact matches only
Filter by Custom Post Type

Berlebihankah Kita dalam Menanggapi Indonesia Tanpa Feminis

0
0
4 weeks ago

Beberapa waktu ini, komunitas jejaring feminis Indonesia diresahkan dengan kemunculan gerakan @indonesiatanpafeminis di Instagram. Berbekal bio “Indonesia doesn’t need feminism” dan tagar #IndonesiaTanpaFeminis, akun tersebut memposting konten-konten yang mempertanyakan dan menyindir gagasan-gagasan feminisme. Menurut mereka, feminisme adalah barang impor dari Barat dan tidak sesuai dengan kaidah ketimuran dan Islam.

Kehadiran mereka membuat gelisah dan geram komunitas feminisme Indonesia. Akun-akun ber-following besar seperti @lawanpatriarki dan @indonesiafeminis mengecam keadaan mereka dan meminta pengikut mereka untuk mendebat atau melaporkan akun tersebut. 

Kegelisahan dan kegeraman yang dirasakan oleh mereka adalah suatu hal yang wajar. Akun tersebut mempromosikan pandangan misoginis dan seksis yang berlindung dibalik sentimen keagamaan. Layaknya gerakan #IndonesiaTanpaPacaran, gerakan #IndonesiaTanpaFeminis menggunakan gelombang konservatisme Islam yang sedang berjaya di kalangan anak muda Indonesia.  

Sumber : Kiblat.net

Namun apakah himbauan para akun feminis besar Indonesia mengecam dan untuk melaporkan akun @indonesiatanpafeminis sebagai tindakan yang wajar dan bisa dibenarkan? Di satu sisi, @indonesiatanpafeminis memang terlalu mengerdilkan gagasan dan aktivisme feminisme sebagai gerakan liberal Barat yang berusaha membuat perempuan “melupakan posisi dan kodratnya”. Namun di sisi lain, respon komunitas feminis terasa sangat berlebihan. 

Berlebihan karena sejauh ini akun tersebut hanya memiliki 3.496 pengikut. Pengaruhnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan @indonesiafeminis yang memiliki 33.8rb pengikut dan @lawanpatriarki yang memiliki 22.9rb pengikut. Respon mereka yang agresif melawan gerakan kontrarian dan memperlakukannya seolah ia adalah hal yang baru dan patut dibasmi menunjukkan ketidakpahaman tentang konteks sosial, sejarah, dan agama Indonesia terhadap gerakan feminisme.

Bukankah hal ini malah membuat mereka, anak-anak muda yang belum paham dengan feminisme, malah semakin alergi dengan feminisme? Bahwa perlakuan agresif dari para feminis ini justru malah mengafirmasi stereotip feminis sebagai perempuan galak, tidak tahu diri, dll?

Alih-alih menyerang akun @indonesiatanpafeminis, feminis-feminis Indonesia seharusnya memfokuskan diri ke penyebaran ideologi dan gagasan feminisme. Mereka yang kontra akan selalu ada dan akan sulit untuk meyakinkan mereka untuk mengikuti gerakan feminisme. Apalagi dengan pendekatan yang agresif, tidak ramah, dan tidak menggunakan “bahasa” mereka. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *