Search
Generic filters
Exact matches only
Filter by Custom Post Type
Search Results for:
Apa sih Quarter-Life Crisis?
Category: Bicara Blog Author: bicaraco Date: 1 month ago Comments: 0

Quarter-life crisis adalah periode di mana seseorang berusia 20-an mengalami insecurity, keraguan akan diri-sendiri, kecemasan, kehilangan motivasi & kebingungan sehubungan dengan masa depannya. Usia 20-an adalah fase peralihan. Biasanya, terjadi perubahan besar pada masa transisi dari remaja akhir ke dewasa awal. Perubahan ini biasanya diiringi dengan tekanan besar.

Di usia ini, kamu menghadapi banyak pilihan. Tapi, kamu merasa tak bisa menentukan pilihan mana yang tepat. Kamu mulai mempertanyakan tujuan hidup, atau kamu merasa tujuan kamu selama ini tidak realistis.

Banyak sumber kegalauan yang dapat memicu quarter life crisis; diantaranya keuangan, karir atau bahkan hubungan percintaan. Biasanya, orang yang mengalami quarter-life crisis sering mempertanyakan; “Apakah pilihanku sudah tepat?”, “Apa yang sebenarnya ingin aku lakukan?, “Kok teman-temanku terlihat jauh lebih bahagia dan sukses daripada aku?”, “Untuk apa sebenarnya aku hidup?”.

Nah, kalau kamu merasakan gejala-gejala tersebut, ini sikap yang harus kamu ambil

Pertama, kamu harus memahami bahwa Quarter-life Crisis adalah hal yang normal. Tenang aja, kamu gak sendiri kok. Jangan menganggap fase ini adalah fase yang penuh beban atau krisis, tapi anggaplah ini hanya sebuah fase kehidupan yang akan membawa kamu menuju ke fase kehidupan yang selanjutnya.

Kedua, berhenti membanding-bandingkan diri kamu dengan orang lain. Sebaiknya kamu juga mengurangi atau berhenti membuka-buka media sosial untuk mengurangi potensi membanding-bandingkan diri kamu dengan orang lain.

Ketiga, jangan diam saja. Lakukanlah berbagai kegiatan. Cobalah untuk melakukan berbagai kegiatan seperti olahraga dan melakukan hobi atau kegemaran kamu lainnya. Dengan melakukan berbagai kegiatan tentunya akan mengalihkan pikiran-pikiran negatif yang ada di pikirkan kamu.

Keempat, berbagilah dengan orang lain. Kamu bisa menceritakan apa yang sedang kamu rasakan kepada sahabat-sahabat kamu dan keluarga kamu. Yakinlah bahwa dengan berbagi kamu akan merasa lebih tenang dan tidak merasa sendirian. Orang-orang yang ada di sekeliling kamu tentunya akan menghibur, menemani, dan membantu kamu melewati fase yang sulit ini.

Kelima, bicaralah pada diri kamu sendiri. Orang yang paling mampu dan paling ampuh untuk membuat dirimu bangkit dari kesulitan ya hanya diri kamu sendiri. Cobalah untuk diam dan berbicara kepada diri kamu, yakinkan diri kamu sendiri bahwa kamu adalah pribadi yang hebat dan kuat. Yakinkan diri kamu sendiri bahwa kamu mampu melewati segala sesuatu yang ada di hadapan kamu saat ini.

0

Mengapa Kita Harus Menghadapi Kematian dengan Berani
Category: Bicara Blog Author: bicaraco Date: 2 months ago Comments: 0
Bicara Kematian

Coba tanya ke orang yang dekat denganmu – baik teman, pacar, atau bahkan orang asing yang kamu temui di ruang publik: “hal apa yang paling kamu takuti dari hidup?”

Berani taruhan orang-orang akan mengatakan kalau mereka takut mati. Alasannya bisa macam-macam, dari tidak ingin meninggalkan orang-orang terkasih, takut masuk neraka karena dosa yang menggunung, takut terasa sakit ketika malaikat maut mencabut nyawa, dan alasan-alasan lainnya. Mau yang terdengar serius atau lucu, semua orang punya alasan kenapa mereka takut mati.

Meskipun banyak yang takut mati, anehnya mayoritas orang menganggap kematian masih jauh dari pandangan. Mereka menganggap kematian baru akan menghampiri ketika mereka sudah tua renta. Padahal ya yang namanya kematian bisa saja menghampiri kapan saja. Hari ini bisa saja sehat bugar, besok bisa jadi sudah terkapar di lantai, aspal, tanah, atau kasur. Wayoloh.

Dualitas ironis ini bukan hanya fenomena Indonesia saja loh, tapi juga global. Fenomena ini tak hanya muncul di negara-negara berkembang di mana spritualitas masih tinggi, tapi juga di negara maju. Ketakutan kematian pun juga menghampiri berbagai umur. Ironisnya lagi, nampaknya fenomena ini lebih terlihat di kalangan anak muda dibanding mereka yang tua. Penderitanya paling banyak berusia 20 tahun-an dan menurun seiring dengan bertambahnya usia. Yah, melihat prospek masa depan kita yang buruk, bakal lucu kalau banyak dari kita yang tidak ‘terjangkit’ ketakutan ini.

Dari segi psikologi, fobia kematian sendiri terbagi menjadi dua: nekrofobia yaitu ketakutan terhadap hal-hal berbau kematian dan thanatofobia yaitu ketakutan terhadap kematian diri sendiri. Thanatofobia lebih sering ditemukan dibanding nekrofobia. Bukan hal yang mengejutkan mengingat masyarakat masih menganggapnya sebagai topik tabu.

Fobia kematian bisa membuat penderitanya mengalami serangan panik dan terus-terusan memikirkan hal-hal seputar kematian. Dibiarkan saja tentunya akan membuat penderita terkonsumsi ketakutan irasional. Hal ini tentunya sangat destruktif, baik untuk kesehatan fisik dan mentalnya. Ironisnya, ini juga bisa mengantarkan seseorang ke kematiannya sendiri.

Sedangkan dari segi filosofis, filsuf Yunani Epicurus menyatakan bahwa “kematian [seharusnya] bukan menjadi perhatian kita, karena selama kita eksis, kematian tidaklah di sini. Dan ketika kematian terjadi, kita tidak lagi eksis.” Poin dari perkataan Epicurus adalah bahwa entitas material yang memiliki ruh pastinya akan mengalami kematian. Kehidupan berakhir di kematian adalah fakta material dan empiris yang tak bisa ditampik. Toh kalaupun kematian akhirnya terjadi, kamu tidak akan merasakannya karena kamu tidak lagi ‘hidup’.

Memang selain perasaan takut akan apa yang dirasakan sebelum mati, orang-orang juga takut akan apa yang terjadi atau menunggu mereka setelah kematian. Untuk mereka yang beragama Abrahamik (Judaisme, Islam, Kristen), ada neraka dan surga menunggu setelah hari penghakiman massal. Namun bagaimana dengan orang-orang yang mengenal konsep ‘karma’ dan ‘reinkarnasi’ seperti Buddhisme?

Di ajaran Buddhisme, kematian dibahas secara buka-bukaan dan ekstensif. Di awal menyebarnya ajaran ini, para biksu baru biasanya diajak untuk melihat proses kematian. Mereka disuruh untuk mengobservasi mayat hewan dan manusia yang ditinggalkan di alam liar selama berhari-hari.

Sekilas hal ini terdengar kejam, tapi sebetulnya hal ini sengaja dilakukan untuk membuka mata sekaligus menekankan konsep ‘reinkarnasi’ ke pikiran mereka. Kegiatan ini juga membiasakan mereka untuk berhadapan langsung dengan kematian, membuat mereka nyaman akan konsep kematian.

Kenyamanan terhadap konsep kematian merupakan hal yang krusial. Karena dalam reinkarnasi, tubuh hanyalah tempat tinggal sementara ruh dan kesadaran sebelum ia pergi lagi ke tubuh lainnya. Tubuhnya pun terus berubah, seiring dengan apa yang sang ruh dan kesadaran lakukan selama hidupnya. Perjalanan ruh ini akan terus berlanjut hingga akhirnya ia menemukan ‘kebenaran’ yang akhirnya bisa meriliskannya dari siklus reinkarnasi dan mengantarkannya ke Nirvana.

Meskipun kamu bukan Buddhis, bermeditasi soal kematian bisa menguntungkanmu dalam kehidupan. Dari memikirkan soal proses kematian hingga membayangkan apa yang terjadi setelah kamu meninggalkan hidup fana, kamu bisa memandang hidup dengan cahaya baru.

Dari hal tersebut, kamu akan menyadari bahwa hidup ini sebetulnya hanyalah perjalanan yang singkat dan sementara. Kamu akan mulai membangun rasa apresiasi terhadap kehidupan, karena setiap detik kehidupan berharga. Sehingga setiap nafas dan waktu yang kamu hirup dan jalani akan digunakan untuk melakukan hal-hal baik, alih-alih hal-hal hedonistik, materialistis, dan yang juga mungkin menyakiti makhluk hidup lain.

Jadi setelah semua ini, apakah kamu masih takut kematian? Atau justru malah menemukan makna baru dari kematian?

0

Melampaui Kebaikan dan Kejahatan, Menguak Sifat Alami dan Utama Manusia
Category: Bicara Blog Author: bicaraco Date: 2 months ago Comments: 0

Ketika orang membicarakan Nietzsche, yang biasanya muncul di kepala adalah “nihilisme”, “Zarathustra”, dan “beyond good and evil”. Ngomong-ngomong soal “beyond good and evil” (melampaui kebaikan dan kejahatan), tentunya ini mengacu kepada tabiat manusia. Apakah manusia dilahirkan memiliki sifat baik, seperti yang diajarkan oleh agama dan filsuf dahulu kala atau justru jahat, seperti realitas kehancuran peradaban yang akan kita hadapi dalam waktu dekat?

Agama, terutama agama Abrahamik, cenderung melihat sifat invidual manusia sebagai sesuatu yang sudah ditentukan bahkan sebelum individu tersebut lahir ke dunia. Di Kristen, ada kepercayaan “dosa asal” yang diterima oleh seluruh umat manusia sebagai konsekuensi dari Adam dan Hawa memakan buah khuldi. Sedangkan di Islam, nasib dan sifat seseorang sudah ditentukan bahkan sebelum ia lahir. Hal ini dikonsepsikan lewat Qada dan Qadar – meski begitu, manusia selalu diberikan kesempatan untuk mengubah

Pertanyaan tentang sifat fundamental manusia sudah dikontestasi oleh para filsuf dari dahulu kala. Aristoteles memandang sifat fundamental setiap manusia sebagai sesuatu yang sudah ditakdirkan dan tidak bisa diubah lagi. Filsuf Thomas Hobbes menganggap sifat dan kehidupan manusia yang natural sebagai “menyendiri, miskin, brutal, dan pendek”.

Berkebalikan dengan Hobbes, filsuf Jean-Jacques Rousseau melihat sifat manusia “pada dasarnya baik dan bisa hidup damai dan bahagia tanpa adanya negara modern” seperti sekarang. Ia pun mengkritik pandangan Hobbes sebagai “terlalu sempit, tidak universal, dan hanya menggambarkan konteks spesifik masyarakatnya” yang kala itu sedang dirundung Perang Sipil Inggris.

Sedangkan filsuf Friedrich Nietzsche menolak adanya dikotomi “baik” dan “buruk” yang dibuat oleh agama dan diperdebatkan oleh filsuf zaman sebelumnya. Ia berargumen bahwa moralitas universal adalah mitos dan sebetulnya sifat manusia yang sebenarnya melewati dikotomi baik dan buruk. Ia juga menolak konsep keinginan bebas (free will), menyatakan bahwa yang sebenarnya memotivasi tindakan manusia adalah kemauan untuk berkuasa (will to power). Sayangnya Nietzsche tidak menjelaskan secara jelas apa yang ia maksud dengan ini.   

Seiring dengan berkembangnya teknologi dan neurosains, pertanyaan tentang sifat fundamental manusia pun mulai dibedah di struktur otak, hormon, dan DNAnya. Robert Sapolsky, profesor Biologi Stanford dalam bukunya “Behave: The Biology of Humans at Our Best and Worst”, menyatakan bahwa manusia, bahkan di tataran biologis pun, tidak memiliki sifat fundamental dan tujuan yang konkret seperti spesies lain.

Ambillah contoh lebah madu dan semut yang secara biologis telah deprogram bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Dalam tataran ini, manusia tidak secara otomatis bekerja sama kecuali ada faktor-faktor yang mendorongnya untuk melakukan itu. Sehingga apakah manusia jahat atau tidak bukan hanya permasalahan biologis semata, tapi juga permasalahan perspektif dan konteks budaya-sosial masyarakat.

Permasalahan soal sifat “buruk” dan “baik” juga berkaitan erat dengan kekerasan. Kita seringkali menganggap hanya orang-orang jahat saja yang melakukan kekerasan, padahal sebetulnya yang terjadi di realita kita tidak seperti itu. Manusia sebagai spesies menyukai kekerasan, tapi hanya jenis kekerasan yang menguntungkan bagi kelompok kita, seperti yang ditunjukkan oleh Sapolsky.

Tak hanya itu, kita juga menyukai melihat orang lain – terutama yang tidak kita sukai – mengalami kegagalan atau kerugian. Perasaan ini, yang juga disebut sebagai schadenfreude, ternyata sudah muncul sejak umur enam tahun. Tak hanya itu, kita juga cenderung melihat orang-orang minoritas dan mereka yang bukan berasal dari grup kita sebagai “manusia-manusia yang kurang berevolusi”, memunculkan apa yang disebut sebagai “dehumanisasi”.

Kekerasan, schadenfreude, dan dehumanisasi tentunya memiliki ikatan yang erat dengan satu sama lain. Pandangan dehumanisasi terhadap seseorang yang dianggap inferior akan membuat kita lebih cenderung melakukan kekerasan terhadap orang itu. Melihat kekerasan dan kesengsaran yang dirasakan olehnya membuat kita merasakan schadenfreude dan juga berpikir bahwa ia sebetulnya layak mendapatkan itu.

Oleh karena ini semua, hierarki manusia terus-menerus dipelihara. Perbedaan tingkatan dan jarak ketimpangan ini juga semakin diperparah seiring dengan sejarah panjang kolonialisme dan semakin terkoneksinya masyarakat kita dengan masyarakat-masyarakat lain. Hierarki dan prasangka buruk terhadap mereka yang berada di bawah yang hanya terkonsentrasi dalam satu komunitas masyarakat menjadi tersebar ke komunitas lain. Hal ini muncul lewat rasisme dan klasisme yang mengkotak-kotakkan seseorang berdasarkan warna kulit, agama, bahasa, dan kekuatan ekonominya.

Memang apabila dilihat dari kacamata evolusi, prasangka, ketidakpercayaan, serta emosi-emosi negatif lainnya adalah cara kelompok untuk bertahan hidup. Namun melihat perkembangan sosio-teknologi manusia dan masyarakat sekarang, tentunya cara pandang hitam-putih ini tidak lagi diperlukan. Justru hal-hal ini malah menghambat kemajuan atau bahkan memperburuk situasi dan kondisi masyarakat. Karena di akhir hari, yang paling diuntungkan dari hal ini adalah mereka yang berkuasa.

Kalau menurutmu sendiri bagaimana?

0

Kalimantan Open Debate
Category: Bicara Events Author: bicaraco Date: 2 months ago Comments: 0

Di dunia yang semakin kompetitif, kemampuan berbicara di depan umum, terutama dalam bahasa Inggris menjadi modal penting bagi mahasiswa. Hal ini mendasari diadakannya kompetisi ‘Kalimantan Open Debate’ oleh Universitas Lambung Mangkurat dan salah satu unit kegiatan mahasiswa, Lambung Mangkurat Debate Society (LMDS).

Kompetisi ‘Kalimantan Open Debate 2019’ diselenggarakan pada tanggal 21 dan 22 September di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Lambung Mangkurat. Panitia acara ini mengundang dua juri undangan dari Beyond Debating. Mereka adalah Rizqi Isnurhadi, alumni Universitas Gadjah Mada dan Charlie Sanjaya, alumni Institut Pertanian Bogor.

Lambung Mangkurat Debate Society (LMDS)

Kompetisi ini diikuti oleh enam belas yang beranggotakan dua orang debater. Enam belas tim tersebut berasal dari berbagai kalangan, baik siswa sekolah menengah atas, mahasiswa maupun dosen. Mereka menjalani tiga ronde penyisihan sebelum melanjutkan kompetisi di babak eliminasi semifinal dan diakhiri dengan ronde final.

Setelah dua hari perlombaan, kompetisi ini dimenangkan oleh tim Moskov Johnson, yang beranggotakan Aryo Moedanton dan Ganes Eka. Tim Moskov Johnson berhasil mengalahkan tiga tim lainnya, dari Politeknik Banjarmasin, SMA 7 dan SMAN1 Banjarmasin di babak final. Pemenang kompetisi ‘Kalimantan Open Debate’ mendapatkan hadiah buku yang disponsori oleh Bicara.co.

0

Masa Depan Manusia Untuk Seratus Tahun ke Depan, Baik atau Buruk
Category: Bicara Blog Author: bicaraco Date: 2 months ago Comments: 0

Setiap hari, kita dibombardir dengan berita-berita buruk soal bumi. Dari buruknya kualitas udara kotakota besar Indonesia, kebakaran hutan tahunan yang sengaja dilakukan untuk membuka lahan baru (seperti yang terjadi di Amazon beberapa minggu terakhir), melelehnya lapisan es di Kutub Utara yang diakibatkan oleh kenaikan suhu bumi tiap tahun mulai mengancam berbagai banyak spesies hewan, tumbuhan, dan, yep, manusia juga.

Melihat bahwa mayoritas kejadian di atas diakibatkan oleh ulah manusia (meskipun tidak semuanya sih, hehe), apakah masih ada harapan dan masa depan untuk anak dan cucu kita kelak? Setidaknya untuk seratus tahun ke depan? 

Apa? Pertanyaannya terlalu egois?

Ya memang, harus diakui, wong kita yang berbuat, kita juga yang masih berharap bumi dan manusia sebagai spesies masih bisa selamat hingga tahun 3000. Tapi tak apa lah, marilah kita berimaginasi sedikit tentang apa yang akan (dan bisa) terjadi ke manusia seratus tahun ke depan. 

Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh Scientific American terhadap dua puluh ilmuwan terkemuka, manusia sebagai spesies masih memiliki kesempatan besar untuk selamat. Menurut Profesor fisika dan astronomi Carlton Caves, manusia memiliki kesempatan besar untuk selamat, bahkan di skenario perang nuklir atau bencana ekologis besar yang diakibatkan oleh perubahan iklim. Tapi ya lagi-lagi tentu tidak semuanya selamat, mungkin hanya yang terpilih saja (ehemcontohnyaorang-orangkayaehem).

Pernyataan yang kurang lebih sama juga diucapkan oleh Profesor Edward O. Wilson dari Harvard. Ia menunjukkan satu-satunya cara bagi manusia untuk menghindari “kepunahan keenam” adalah dengan “mengawetkan” habitat dan ekosistem yang kita punya dengan mengkatalogkan sekitar sepuluh juta spesies yang masih tersisa sekarang. Dari sepuluh juta ini, baru dua juta yang tercatat. Jalan masih panjang, bung!     

Ngomong-ngomong soal “panjang”, laju teknologi yang pesat sekarang berhasil membantu manusia hidup lebih panjang. Salah satu terobosan teknologi yang membantunya adalah replika jaringan tubuh manusia yang sedang dikembangkan. Ada kemungkinan beberapa abad ke depan kita bisa mereplika semua jaringan tubuh manusia, seperti yang dikatakan oleh Profesor Robert Langer dari MIT. Namun tentunya otak akan menjadi bagian tubuh yang paling belakang bisa direplika karena strukturnya yang sangat rumit dan sulit sekali untuk dimengerti.

Hal lainnya yang juga penting bagi umat manusia adalah apakah kita bisa menjadi masyarakat yang lebih setara, terutama dalam urusan gender? Tentu saja bisa. Profesor Londa Schiebinger dari Stanford menyarankan perubahan institusional besar-besaran dengan merekrut lebih banyak perempuan ke bidang sains dan teknologi, membuat kebijakan yang ramah terhadap perempuan dan keluarga, serta menghilangkan stigma dan stereotip gender. 

Salah satu keprihatinan terbesar sekarang adalah bagaimana kita bisa tetap memproduksi makanan tanpa semakin mempercepat perubahan iklim dan perusakan habitat. Profesor Pamela Ronald dari UC Davis menyatakan tiga hal utama yang bisa dilakukan: kurangi membuang panen dan makanan berlebih, serta konsumsi daging. Namun yang paling penting adalah membuat kultur pertanian berkelanjutan yang mengintegrasikan teknologi biji dan praktek manajemen yang lebih baik, serta mengedukasi konsumen tentang harga dan tantangan yang dihadapi oleh para peternak untuk memproduksi daging yang mereka konsumsi.

Namun apabila semua usaha gagal, bisakah kita pindah dari bumi dan “mengkolonisasi” planet lain? Catharine A. Conley dari NASA menyatakan bahwa kemungkinannya sangat kecil. Kita masih tidak memiliki pemahaman atau bahkan cara untuk mereplika atmosfir bumi – padahal hal ini sangat penting untuk mentransfer ekosistem yang kita punya di bumi ke planet lain. Skeptismenya ini juga dikarenakan oleh betapa kecilnya pemahaman yang kita punya akan laut, meskipun laut mengisi tujuh puluh persen bumi.

Artificial Intelligence

Namun yang paling penting dan paling dekat dengan kita adalah permasalahan ketidaksetaraan. Permasalahan ini sempat disebutkan oleh Stephen Hawking yang menyatakan perkembangan AI sekarang akan menjadi akhir dari umat manusia. Lalu apa hubungannya ketidaksetaraan dengan perkembangan AI? 

Tentu saja orang-orang pertama yang akan mendapatkan AI adalah orang-orang kaya, para satu persen dari populasi dunia, yang tentunya juga yang mengontrol mayoritas industri dunia. Adanya AI berarti otomasi mayoritas pekerjaan manusia – yang berarti sembilan puluh sembilan persen manusia yang tidak memiliki teknologi AI – memiliki kemungkinan untuk tidak memiliki pekerjaan dan uang. Ini adalah hal yang cukup ironis mengingat seharusnya teknologi AI membantu manusia untuk hidup lebih mudah, bukannya membuat manusia semakin menderita.

Meski begitu, ada yang menolak anggapan otomasi pekerjaan akan membuat pekerjaan menghilang dan membuat manusia tidak lagi bekerja. Argumen mereka, memang sekarang pekerjaan-pekerjaan kerah biru dengan bayaran rendah digantikan oleh mesin, tapi pada akhirnya para pekerja ini beralih profesi ke bidang lain, seperti ke industri servis yang sedang naik daun.

Nah, begitulah kira-kira masa depan yang diprediksikan oleh para ahli. Kalau menurutmu sendiri, bagaimana masa depan manusia dalam seratus tahun ke depan? 

 

0

Pentingkah Memilih Kerja Sesuai Passion? Atau Sesuai Gaji dan/atau Keinginan Orangtua?
Category: Bicara Blog Author: bicaraco Date: 2 months ago Comments: 0

“Mending kerja ikut passion atau kerja ikut duitnya?” mungkin adalah salah satu pertanyaan filosofis paling sering dipertanyakan oleh generasi muda jaman sekarang. Bagi yang pragmatis, pastinya memilih bidang kerja berdasarkan uangnya (agar supaya cuan!), tapi buat yang idealis biasanya memiliih untuk bekerja sesuai passion

Ada banyak sekali artikel dan cerita inspiratif orang-orang sukses karena mengikuti passionnya. Tapi tunggu dulu, sebenarnya passion itu apa? Kenapa passion seringkali dipasangkan dengan “kerja”?

Merujuk kamus Merriam-Webster, passion memiliki banyak arti. Dari merujuk ke penderitaan Yesus di masa kematiannya, keinginan intens untuk menjadi yang terbaik di bidangnya, kejahatan yang dilandasi hasrat (crime of passion), hingga hasrat seks. Nah loh, banyak kan artinya, bukan cuma merujuk ke pekerjaan doang?

Kembali lagi ke pertanyaan awal: kenapa kerja harus mengikuti passion dan sebaliknya? Bukankah kalau kita mengikuti definisi Merriam Webster, justru hanya orang-orang yang amat-teramat terobsesi dengan pekerjaannya yang bisa dibilang “kerja mengikuti passion”?

Tak hanya itu, kamu juga perlu dipusingkan dengan apa passion-mu. Kamu suka masak, apa itu berarti itu passion-mu? Belum tentu. Kamu mungkin suka masak tapi ga sampai mati-matian belajar hingga ke tingkatnya Gordon Ramsay. Itu bukan passion namanya, itu hanya hobi.

Agar sesuatu bisa disebut sebagai passion, kamu tak hanya harus amat menyukai bidangmu, tapi kamu juga harus mendedikasikan banyak waktu dan semangat untuk menaikkan levelmu, sampai ke level master. Kamu tak peduli seberapa banyak waktu, uang dan hal-hal lainnya yang kamu korbankan demi menguasai bidang yang kamu suka. Nah, itu baru passion.

Belum bisa menemukan passion-mu? Tenang aja, passion ga jatuh dari langit sepeti tahi burung (kenapa harus tahi burung, kenapa ga uang aja sih?). Kadang passion datang tanpa diduga. Mungkin kamu sedang mencoba melakukan sesuatu baru, lalu tahu-tahu kamu senang terus mendedikasikan banyak sumber daya ke hal ini. Nah, selamat, kamu dapat passion-mu!

Setelah kamu menemukan passion-mu, apa yang kamu lakukan? Langsung mencemplungkan diri ke passion barumu? Eits, tunggu dulu. Sebaiknya kamu lakukan riset jenis-jenis pekerjaan apa saja yang tersedia untuk passionmu. Begitu juga dengan gajinya karena passion doang enggak mengisi perut dan bayar token listrik cuy~.

Penting juga untuk mencari tahu orang-orang yang sukses dari bekerja dengan bidang yang sesuai passionmu. Ya anggap saja buat gambaran sekaligus motivasi. Ambillah contoh Bill Gates, alm Steve Jobs, alm Walt Disney, Elon Musk, J.K. Rowling, Gordon Ramsay atau bahkan Jokowi (eh Jokowi memang passionnya jadi presiden?), dkk. Cari sendiri lah sisanya, google is free kata kakak-kakak SJW Twitter.

Sedikit sekali bukan? Iya, dikit banget sampai agak bikin depresi.

Mungkin buat orang-orang yang passionnya ada di dunia yang lagi hip seperti teknologi seperti tiga nama besar yang disebutkan di atas, yang kerjanya membuat inovasi, maka sudah jelas punya potensi sukses lebih besar dari… ya ambil contohlah yang passionnya bahasa atau humaniora (hiks!).

Tapi ya, tak jarang pula orang-orang yang bekerja sesuai passion mereka tidak mempermasalahkan bayarannya sama sekali. Karena bagi mereka, passion mereka adalah identitas mereka. Mereka merasa hilang arahan kalau passion mereka direbut. Kalau kamu tipe yang seperti ini, monggo lakukan. Tapi ya pastikan tabunganmu cukup semisal kamu gagal, atau lebih baik lagi, punya orangtua kaya yang bisa membuatmu tetap hidup.

Nah setelah riset tentang pekerjaan yang sesuai dengan passionmu – itupun kalau kamu udah nemu passionmu apa – kamu juga harus siap dengan segala konsekuensinya. Kaya… tiba-tiba kamu kehilangan passion atau berubah haluan dadakan. Ini bisa banget terjadi loh.

Loh kok bisa? Gimana ceritanya?

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Paul O’Keefe, Carol Dweck, dan Gregory Walton dari Stanford, mantra seperti “kerja berdasarkan passion” memiliki implikasi bahwa mencari dan mendapatkan ketertarikan dan mengembangkannya menjadi passion itu mudah. Karena pola pikir seperti ini, justru ketika orang-orang yang mengalami tantangan di ketertarikan baru mereka, justru akan cenderung menyerah dari ketertarikan baru mereka.

Tak hanya itu, ketiga ilmuwan ini juga menyatakan bahwa pola pikir seperti ini menyatakan bahwa jumlah ketertarikan seseorang itu terbatas. Hal ini menyebabkan orang-orang untuk mempersempit fokus mereka dan membuat mereka enggan mencoba hal-hal baru.

Padahal, di dunia sekarang, banyak sekali inovasi-inovasi baru yang terjadi karena orang-orang dari bidang yang berbeda bekerja sama. Dan hal ini hanya bisa terjadi ketika orang-orang membuka pikiran mereka. Para ilmuwan ini juga menambahkan bahwa justru passion itu adalah sesuatu yang cair layaknya air, bukan sesuatu yang “tetap”.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Ketiga ilmuwan ini mengatakan untuk “kembangkan passionmu”. Jangan hanya fokus ke satu bidang saja. Kalau kamu tertarik masak-masak, bisa loh kamu membuka cakrawala dengan belajar biologi dan kimia juga buat bikin makanan gastronomi yang kreatif dan science-y. Tak hanya unik, kamu juga bisa bikin harga makananmu mahal karena avant garde. Mantep kan?

Memang jalannya akan susah, tapi asal kamu mau terus belajar dan tak kenal lelah, kamu pasti bisa! Yuk semangat!

0

1 2 3 9